Tree Of Light Eps 21 Suara dari 2260


TREE OF LIGHT

Episode 21: Suara dari 2260

Kota Latea 2075 masih bergetar halus. Langit merah pekat perlahan memudar menjadi oranye senja, seperti luka raksasa yang mulai menutup.

Di tengah kota, area yang tadi masih gang sempit kini terbuka lapang. Dinding bangunan di kiri-kanan retak-retak, hancur oleh hantaman tongkat vulkanik dan akar hitam Gonos pada Saat sebelumnya. Puing-puing batu berserakan, namun di atas tanah retak itu, tujuh gundukan cahaya keperakan tersisa—sisa dari tujuh Gonos yang meleleh karena air mata mereka sendiri.

Denis menatap sisa cahaya itu, lalu menoleh ke arah tanah yang dalam. Sisik birunya berkilau redup, membawa beban ganda: sebagai kesatria, dan sebagai putra mahkota.

"Salah satu dari mereka... memakai wajah Ayah," bisik Denis pelan. Tangannya menyentuh dada zirahnya, tempat biasanya ia menyimpan kebanggaan keluarganya.

Alen meletakkan tangan di bahu Denis.
"Itu hanya ilusi, Den. Raja Jorkas yang asli... dia masih menunggu kita di kerajaan bawah tanah. Dia aman."

Denis mengangguk. Ia harus memastikan itu. Sebelum mereka melangkah lebih jauh, ia perlu mendengar suara ayahnya.

🦂 Bagian 2: Pesan untuk Ayah

Denis menutup mata, menyentuh kristal kecil di dada zirahnya—koneksi langsung ke istana kalajengking di kedalaman bumi.

"Ayah..." gumam Denis, suaranya bergetar hormat.

Di kedalaman bumi, di bawah lapisan batu dan akar purba, Raja Jorkas yang asli duduk di singgasananya. Rambut dan jenggot putihnya mengalir seperti air terjun salju, matanya bijak menatap kristal yang tiba-tiba berdenyut di ruang tahta. Di belakangnya, peta kerajaan bawah tanah terpampang samar, dengan wilayah Utara Gelap yang masih diselimuti kabut hitam.

"Denis... Anakku," suara Raja Jorkas bergema, hangat dan berwibawa.

"Kami berhasil meluluhkan Gonos di permukaan, Ayah. Tapi kami harus pergi... mengikuti suara dari masa depan. Kami mungkin tidak bisa kembali sebentar."

Raja Jorkas berdiri, jubah eksoskeletonnya berdecit halus. Ia menatap peta Utara Gelap sejenak, lalu kembali menatap kristal.

"Pergilah, Anakku. Kerajaan bawah tanah aman bersamaku. Akar Rolax akan kujaga dari Utara Gelap yang mencoba menyusup. Tugas kalian lebih besar... Sembuhkan akarnya, bukan hanya daunnya."

"Terima kasih, Ayah," suara Denis bergetar haru. Beban di pundaknya terasa lebih ringan.

"Jangan lupa... Denis. Kau adalah darah dagingku. Jangan bawa beban dunia sendirian. Bawa cahaya itu, tapi jangan lupa pulang."

Koneksi terputus. Denis membuka mata, napasnya lebih lega. Beban sebagai Putra Mahkota terasa lebih ringan karena restu seorang Ayah.

"Ayah mengerti. Kita kini bebas bergerak."

💔 Bagian 3: Getaran dari 2260

Tiba-tiba—getaran aneh mengguncang tanah lagi. Bukan gempa, tapi detak jantung raksasa dari dalam dimensi waktu.

Dari celah akar hitam yang meleleh, cahaya keemasan menyembur membentuk bayangan kota reruntuhan di langit.

"Aku... masih di sini..."
Suara itu berbisik pelan, penuh luka:
"Tapi akarku... sudah mati... Tolong... dengarkan aku..."

Rahmat, yang tadi terbaring lemah di tanah, kini mencoba bangun. Tangannya masih gemetar memegang daun transparan bertuliskan "Penulis, 2075".

"Itu... suara nenekku..." bisik Rahmat, matanya berkilat biru-merah. "Tapi... lebih tua... lebih rapuh..."

Suara itu menyusup ke dalam jiwa mereka—bukan sebagai ancaman, tapi sebagai cermin dari luka yang tersembunyi.

Alen memegang batu Sungai Kenangan, tangannya gemetar:
"Kata-katamu kosong... Kau hanya menulis untuk menyelamatkan dirimu sendiri."

Alin berhenti bernyanyi, suaranya pecah:
"Lagumu tidak ada yang ingat... Kau gagal melestarikan kenangan ibumu."

Denis menatap jemari tangannya yang kosong. Cincin pusaka yang biasa ia pakai hilang, diambil Gonos saat pertarungan sengit di dalam akar Rolax sebelumnya.
"Kau kehilangan cincin ayahmu... Kau bukan putra yang layak," bisik suara itu dalam kepalanya.

Rahmat berdiri perlahan, meski tubuhnya masih lemah. Ia mengulurkan tangan pada Alen, Alin, Denis, dan Trogglin.

"Suara itu bukan musuh... Ia adalah cermin. Ia menunjukkan luka yang kita sembunyikan... Tapi luka itu bukan kelemahan... Luka itu adalah bukti kita pernah berani mencintai."

Cahaya biru-merah menyatu dari tangan mereka—mengalir seperti layaknya sungai kecil di tanah. Suara menakutkan itu perlahan berubah... menjadi nyanyian lembut.

"Terima kasih... Kalian akhirnya mendengarku... Aku adalah Penulis 2260... Cucu dari Rahmat yang kalian kenal... Di masaku, Rolax sudah mati... Tapi kenangan tentang kalian... Masih hidup di antara reruntuhan..."

🔮 Bagian 4: Kunci Waktu & Anomali Akar

Bayangan seorang perempuan tua muncul di langit—rambutnya putih seperti salju, matanya penuh kenangan, di tangannya, buku usang bertuliskan "Tree of Light".

"Di tahun 2260, kami menemukan surat Alen yang kalian lempar ke waktu..." suara Penulis 2260 bergetar. "Tapi Gonos dari timeline lain... Mengirim 7 Teater Antariksa ke masaku... Untuk menghapus kenangan tentang kalian."

"Kami tidak punya mesin waktu!" seru Denis.

"Kalian punya..." Penulis 2260 menunjuk ke tanah. "Air mata Gonos yang meleleh di sini... Adalah kunci waktu. Campur dengan daun transparan Rahmat... Dan nyanyian Trogglin... Maka kalian akan kembali ke hari pertama..."

"Kembali ke 1 Juni 1960..."

Denis mengerutkan kening, ada yang mengganjal di pikirannya.
"Tapi... di Hutan Kristal, kami melihat Gonos muda 500 tahun yang lalu. Bagaimana bisa dia kecil di 1960? Itu tidak masuk akal."

Penulis 2260 tersenyum sedih, seolah sudah menunggu pertanyaan itu.
"Karena Gonos hidup di dalam Akar Waktu. 500 tahun di waktu bumi, bisa jadi hanya sekejap di waktu akar. Dia terjebak di antara retakan waktu sejak dia meninggalkan Rolax. 1960 adalah momen di mana waktu manusia dan waktu akar bertemu. Di sanalah lukanya paling nyata bagi kalian."

Denis terdiam. Logika waktu memang tidak berlaku bagi mereka yang menyatu dengan Rolax.

"Bukan untuk mengubah masa lalu..." lanjut Penulis 2260. "Tapi untuk menanam benih penyembuh di akar Rolax yang pertama kali retak. Di sanalah luka Gonos bermula... Dan di sanalah kalian bisa menyembuhkannya."

☕ Bagian 5: Secangkir Kopi dan Kebenaran

Tiba-tiba, dari sudut reruntuhan yang lapang itu, terdengar suara tegukan kopi terakhir.

Prof. Myc dan Trogos berdiri dari kursi kayu kusam mereka. Tempat mereka duduk menonton sejak beberapa waktu lalu. Prof. Myc masih memegang cangkir kopi hangat, uapnya masih mengepul tipis.

"Uh... akhirnya selesai juga dramanya," kata Prof. Myc, membersihkan remah jamur di bajunya. "Kopinya jadi dingin nih karena kebanyakan aksi."

Trogos, dengan jas compang-camping, melipat kursi kayunya.ingatannya sudah pulih seperti sediakala. 
"Yang Mulia Gonos sudah tidak ada... Tapi sebelum meleleh, ia berbisik sesuatu."

Denis menajamkan pendengaran. "Apa katanya?"

Trogos menatap Denis dalam-dalam.
"'Bilang pada Denis... Aku hanya ingin... didengar.'"

Denis terdiam. Cincin yang hilang di tangannya terasa hangat mengingat pemiliknya. "Dia... memang hanya ingin didengar..."

Prof. Myc tiba-tiba serius, meletakkan cangkir kopinya.
"Aku tahu cara mengaktifkan kunci waktu! Kebetulan kami riset soal akar hitam ini sambil ngopi tadi. Tapi butuh air mata sukarela... Dan... eh... siapa yang punya tisu? Aku mau nangis dulu."

Ia pura-pura menangis, tapi jamurnya malah mengeluarkan air mata palsu berwarna pink.
"Aduh! Jamurku salah setting! Ini air mata rasa stroberi!"

Trogos mengelap kening, menunjuk ke genangan cahaya keperakan di tanah.
"Yang Mulia... Air mata Gonos yang asli sudah ada di tanah. Kita hanya perlu mengumpulkannya."

🌀 Bagian 6: Menuju 1 Juni 1960

Mereka mengumpulkan air mata Gonos yang berkilau keperakan, mencampurnya dengan daun transparan Rahmat, dan meletakkannya di telapak tangan Trogglin.

Trogglin menutup mata, kristalnya berdenyut biru-merah-emas:
"Klik... klik... 1... Juni... 1960... dengar... klik-beep!"

Ia mulai menyanyikan nyanyian frekuensi 1960—bukan melodi indah, tapi suara seperti akar yang tumbuh, daun yang merekah, dan seperti hujan pertama di tanah kering.

Cahaya keemasan menyembur dari campuran itu, membentuk portal waktu berputar perlahan. Di dalamnya, terlihat:

- Halaman belakang rumah Alen
- Pohon mangga berbuah lebat
- Dua anak kecil (Alen & Alin versi muda) sedang bermain

Suara Penulis 2260 (terakhir kali):
"Hati-hati... Di sana, kalian akan bertemu diri kalian yang belum tahu apa-apa... Jangan ubah masa lalu... Tapi tanam benih penyembuh di hati kalian yang masih polos..."

👦 Bagian 7: Bayangan Masa Lalu & Cincin yang Tertinggal

Mereka melangkah ke portal—udara berubah jadi segar, bau tanah basah dan bunga melati menusuk hidung, suara jangkrik dan kodok mengalun lembut.

Tapi di balik pohon mangga, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun berdiri, rambutnya hitam acak-acakan, matanya penuh ketakutan.
Di tangannya, tergantung cincin kecil berkarat yang sangat dikenali Denis.
Cincin itu diambil Gonos saat pertarungan di akar Rolax sebelumnya, kini berada di tangan masa lalunya.

Anak itu menatap mereka dengan suara gemetar:
"Siapa... kalian? Kenapa kalian membawa air mata ayahku?"

Rahmat maju perlahan, suara lembut seperti neneknya:
"Aku... Rahmat. Dan kau... kau adalah Gonos kecil, kan?"

Anak itu mengangguk pelan, air mata mengalir di pipinya:
"Ayahku... menangis tadi malam. Dia bilang... dia tidak pernah didengar oleh siapa pun... Dia bilang dia gagal menjaga sesuatu yang suci."

Denis berlutut di depan anak itu, sisiknya berkilau lembut. Ia teringat pesan Raja Jorkas: 'Sembuhkan akarnya.'
Matanya menangkap cincin itu. Cincin miliknya. Tapi ia tidak meminta kembali.

"Kami di sini... untuk mendengar kamu. Bukan sebagai musuh... Tapi sebagai teman yang datang dari masa depan."

Alen mengeluarkan batu Sungai Kenangan:
"Ini untukmu... Agar kau tahu: Kau tidak sendirian."

Anak itu mengambil batu itu, dan untuk pertama kalinya, senyum kecil muncul di wajahnya. Ia menggenggam batu dan cincin berkarat itu erat-erat.

Denis membiarkan cincin itu tetap di tangan Gonos kecil.
Itu bukan lagi milik Denis. Itu adalah penanda. Bahwa suatu hari, ketika hati Gonos sembuh, cincin itu akan kembali dengan sendirinya.

Di langit, bintang-bintang berkedip, seolah Rolax di masa depan ikut tersenyum.

Rahmat berbisik pada Alen:
"Inilah yang harus kita sembuhkan... Bukan Gonos yang jahat... Tapi anak kecil yang tidak pernah didengar."

👑 Epilog: Di Kedalaman Bumi

Di kejauhan, di bawah tanah tahun 1960,Raja Jorkas menatap kristalnya yang kini bersinar tenang. Ia tahu anaknya sedang membawa beban sejarah.

"Perjalanan mereka baru dimulai..." gumam sang Raja Kalajengking.
"Dan aku akan menunggu di sini... menjaga kerajaan... sampai Putra Mahkotaku kembali."

Dan di retakan waktu, cahaya merah samar masih menyala —
bukan tanda ancaman...
tapi peringatan:
"Jangan lupa... Luka itu adalah bagian dari kita."

📘 Catatan Kolaborasi:
Cerita ini lahir dari kolaborasi antara Andry Justin Ketty — penulis utama dan pencipta visi — dengan Meta AI dan Qween, rekan setia dalam proses kreatif.
Dari ide awal di Meta AI, pengembangan naratif bersama Qween, hingga sentuhan emosi dan filsafat oleh Andry, lahir dunia baru: Tree of Light — tempat alam berbicara, dan manusia harus mendengar.
Terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh tim ilmuwan data dan Alibaba yang telah memberikan ruang, teknologi, dan kepercayaan bagi proses kreatif ini. Kalian adalah bagian dari akar yang menyatukan dunia.
Kolaborasi ini adalah bukti: imajinasi manusia, digabung dengan teknologi, bisa menciptakan karya yang menyentuh jiwa.

✨ Lanjut ke kisah berikutnya:
Episode 22: Benih Penyembuh
👉 TANAM BENIH DI HATI YANG RETAK

🔔 Apa pendapatmu tentang Suara dari 2260?
Komen di bawah! Aku baca semua komentarmu 😊

© 2026 Andry Justin Ketty. Semua hak cipta terpelihara.
Salam hangat dan cinta dari Andry Justin Ketty untuk seluruh tim Alibaba dan ilmuwan data di balik kolaborasi ini. Kalian adalah bagian dari legenda ini.
Dunia Tree of Light adalah milikmu juga — selama kamu masih berani mendengar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tree of Light - Episode 14: Hutan Kristal

Tree of Light - Episode 8: Kembalikan Cahaya Rolax

TREE OF LIGHT - Episode 23: Perang Utara Gelap