Tree of Light - Episode 8: Kembalikan Cahaya Rolax
TREE OF LIGHT
Episode 8: Kembalikan Cahaya Rolax
Tangan Trogos mencengkeram leher Raja Jorkas, pedang emas vulkanik menempel di tenggorokannya.
"Satu langkah lagi kalian berani maju... dia akan mati!" Ancam trogos, matanya menyala merah pudar dengan mata yang waspada.
Denis menatap tajam, rahangnya mengeras penuh amarah.
"LEPASKAN AYAHKU PENGECUT! HADAPI AKU..KALAU KAU MEMANG JANTAN!
Ia Lalu dengan cepat melompat maju — ekornya yang nyaris patah dengan cepat menyambar seperti cambuk bercahaya.
"ZSSHHRRR!!!"
Sabetan itu tepat mengenai pergelangan tangan Trogos.
Pedang terlepas.
Tubuh Trogos terpental ke dinding, membentur batu vulkanik dengan keras.
"AARRGGHH!!" teriaknya, memegang lengannya yang hangus oleh Cahaya Rolax yang ada pada diri denis.
Denis dengan sigap menangkap Raja Jorkas yang hampir roboh.
"Ayah... kita pulang."
Raja Jorkas membuka mata perlahan, wajahnya pucat.
"Denis... putraku..."
"Kau telah menjadi lebih dari sekadar Putra Mahkota..."
"Kau telah menjadi bagian dari salah satu penjaga Cahaya."
⚔️ Pasukan Cacing Terdesak: Kemunduran Tak Terhindarkan
Gonos berdiri tegak, tubuhnya masih terasa remuk setelah benturan dengan pilar.
Ia lihat pasukannya mulai mundur, kulit mereka meleleh saat menyentuh Cahaya Rolax yang kini lebih terang dari sebelumnya.
"JANGAN MUNDUR!!" teriaknya, suaranya bergema seperti gempa.
"CAHAYA ITU HANYA TEKNOLOGI PURBA!!"
Tapi kali ini, bahkan Prof. Myc pun ragu.
"Yang Mulia... formula kita gagal... frekuensi Cahaya Rolax telah berevolusi..."
Komandan Vorm berteriak marah,dia kembali berusaha mencoba menyerang Alen dengan pedang tulang fosil yang baru saja Dia pungut di lantai istana cacing .
Tapi saat pedang tersebut menyentuh cahaya biru keabuan...
"ZSSHHRRR!!!"
Pedang itu meleleh seperti plastik terbakar.
"TIDAK MUNGKIN!" teriak Vorm, mundur sambil memegang gagang pedang yang panas.
"TIKUS ITU... DIA MENGIRIMKAN GELOMBANG LAWAN?!"
Dari langit-langit istana, jamur bioluminescent yang tadinya merah pudar kini berubah menjadi biru keabuan — hasil dari puisi Glowtoad sebelumnya yang berhasil mengganggu sistem saraf cacing.
Tanah bergetar pelan — bukan karena amarah, tapi karena denyut bumi yang kembali hidup.
Gonos tersentak.
"APA INI?! JAMUR-JAMUR ITU... BERUBAH WARNA?!"
Prof. Myc melihat data di layar jamur bioluminescent.
"Tidak mungkin... Trogglin itu... dia bukan tikus biasa... dia adalah salah satu bagian dari penjaga Cahaya Rolax yang tidak terduga!"
Gonos berdiri tegak, matanya berpendar marah.
"KALAU BEGITU... AKU AKAN HANCURKAN SEMUANYA!!"
Ia mengangkat tongkat emas vulkaniknya, siap menyerang Trogglin kembali setelah sebelumnya sempat gagal.
🌿 Rolax Menghentikan Pertempuran: Suara Alam
Tiba-tiba—
suara getaran besar menggema dari dalam tanah.
Bukan dari Gonos.
Bukan dari Rolax.
Tapi dari seluruh jaringan akar dunia bawah tanah.
Dan dari dalam diri mereka, suara Rolax bergema — tenang, dalam, tak terbantahkan:
"Cukup."
"Kalian telah membuktikan bahwa Cahaya tidak untuk dimiliki."
"Tidak untuk dikuasai."
"Tidak untuk dihancurkan."
"Cahaya adalah penghubung."
"Dan aku... adalah jaringan pertama di bumi."
Suara itu menggema bukan hanya di telinga mereka, tapi di tulang, darah, dan denyut jantung semua makhluk yang hidup di atas Hutan Aklea.
Gonos terdiam.
Matanya berpendar, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak.
Seolah-olah bumi itu sendiri yang telah menahannya.
Trogos mencoba bangkit, tapi tangannya gemetar.
"Ini... bukan teknologi... ini... alam...yang berbicara."
🌑 Pasukan Cacing Mundur ke Utara Gelap
Gonos menatap pasukannya yang sudah terluka parah.
Vorm memegang lengannya yang hangus.
Prof. Myc mundur pelan-pelan, kristal penelitiannya retak.
Trogos berdiri sempoyongan, wajahnya penuh dendam, tapi tidak bisa melawan.
"KITA MUNDUR!" teriak Gonos, suaranya bergetar marah.
"INI BELUM SELESAI!"
Mereka kabur ke Pintu Utara Istana Cacing — gerbang raksasa dari tulang fosil yang menyatu dengan batu vulkanik.
Oligo, Penjaga Gerbang, menggeram pelan, lalu menyatu kembali dengan batu, membuka jalan bagi pasukan yang mundur.
Prof. Myc berlari sambil memegang tabung retak berisi lendir hitam.
"Formula kita gagal... tapi kita akan membuat yang baru... yang jauh lebih kuat..."
Trogos menoleh ke belakang, matanya berpendar marah ke arah Denis.
"Ini belum selesai, Putra Mahkota... aku akan kembali... dengan cara yang tidak akan pernah kau bayangkan sebelumnya."
Dari kegelapan Utara Gelap, terdengar suara ribuan cacing yang merayap — seperti hujan yang jatuh di atap tanah liat hitam.
Lampu merah samar menyala di kejauhan — tanda bahwa mereka belum menyerah.
🌟 Rolax Membawa Mereka Pulang ke Istana Kalajengking
Alen ingin mengejar.
"Kita harus hentikan Gonos sekarang!"
Tapi tiba-tiba, suara Rolax bergema lagi:
"Jangan kejar kegelapan."
"Karena kegelapan hanya bisa dikalahkan oleh cahaya yang tetap diam."
"Pulanglah."
Cahaya biru keabuan dari Pohon Rolax — meski jauh di atas — menyebar melalui jaringan akar, sampai ke Istana Cacing.
Cahaya itu menyelimuti:
- Denis dan Raja Jorkas
- Alen & Alin
- Trogglin yang masih berdiri tegak
- Glowtoad yang tersenyum puas
Seperti selimut hidup, cahaya itu mengangkat mereka secara perlahan,lalu membawa mereka melalui Lorong Nafas Bumi, naik ke permukaan, kembali ke Istana Kalajengking.
🌍 Retakan Menutup: Luka Bumi Sembuh
Mereka mendarat dengan lembut di ruang takhta Istana Kalajengking — tempat semua bermula.
Di sekeliling mereka, retakan-retakan besar yang dulu terbentuk saat mereka jatuh ke Istana Cacing... perlahan-lahan menutup.
Batu vulkanik menyatu kembali.
Tanah menjadi utuh.
Tidak ada bekas pertempuran.
Tidak ada jejak Gonos.
Seolah-olah tidak pernah ada lubang, tidak pernah ada perang.
Alen menatap lantai yang dulunya retak.
"Ini... seperti mimpi..."
Alin tersenyum kecil.
"Tidak. Ini nyata. Tapi alam memilih untuk sembuh... bukan dengan lupa, tapi dengan memaafkan."
🐭 Trogglin: Sang Penjaga Kecil yang Besar
Trogglin melompat ke tangan Alen, kristal di punggungnya berdenyut lemah.
"Klik-klik... Cahaya Rolax aman... cacing utara berbahaya... klik-beep!"
"Trogglin... penjaga... jaringan... klik-klik!"
Denis tertawa kecil.
"Dia nggak bisa nyerang... tapi kalau kamu butuh penyelamat dadakan, dia yang paling jago!"
Tiba-tiba, dari dalam diri mereka, suara Rolax bergema:
"Trogglin adalah penjaga pertama."
"Makhluk kecil yang ditugaskan untuk menjaga koneksi saat dunia gelap."
"Ia adalah Wi-Fi alam... yang selalu mencari jalan pulang."
Semua terdiam.
Bahwa si tikus rongsok ini bukan kebetulan.
Ia adalah kunci yang hilang sejak zaman purba.
🌄 Penutup Bab 8: Damai yang Rapuh
Malam itu, di ruang takhta Istana Kalajengking, semua berkumpul:
- Pasukan Ekor Bercahaya
- Alen & Alin
- Denis dan Raja Jorkas
- Glowtoad
- Dan Trogglin, yang duduk di atas sendok patahnya, seperti raja mini
Cahaya Rolax berdenyut tenang di pusat ruangan.
Angin berhembus pelan dari lorong utara — tidak lagi membawa racun, tapi aroma lumut segar.
Tapi dari kejauhan utara, cahaya merah samar masih menyala.
Tanah bergetar pelan.
Suara gemerisik ribuan cacing mulai merayap.
Alen menatap Rolax.
Alin memegang tangannya.
Mereka tahu:
Perang belum dimulai.
Tapi pertempuran pertama sudah lewat.
Dan ini baru awal.
📘 Catatan Kolaborasi:
Cerita ini lahir dari kolaborasi antara Andry Justin Ketty — penulis utama dan pencipta visi — dengan Meta AI dan Qween, rekan setia dalam proses kreatif.
Dari ide awal di Meta AI, pengembangan naratif bersama Qween, hingga sentuhan emosi dan filsafat oleh Andry, lahir dunia baru: Tree of Light — tempat alam berbicara, dan manusia harus mendengar.
Kolaborasi ini adalah bukti: imajinasi manusia, digabung dengan teknologi, bisa menciptakan karya yang menyentuh jiwa.
✨ Lanjut ke Episode 9:
Bab 9: Akar yang Masih Bergetar
👉 LANJUTKAN PETUALANGAN
🔔 Apa pendapatmu tentang Denis dan Istana Cacing?
Komen di bawah! Aku baca semua komentarmu 😊
© 2025 Andry Justin Ketty. Semua hak cipta terpelihara.
Dunia Tree of Light adalah milikmu juga — selama kamu masih berani mendengar.

Komentar
Posting Komentar