TREE OF LIGHT - Episode 23: Perang Utara Gelap
![]() |
TREE OF LIGHT
Episode 23: Perang Utara Gelap
Langit Latea 2075 belum sempat sepenuhnya cerah.Abu-abu yang tadi menyapa, kini berubah menjadi merah berdenyut.pasukan cacing Di permukaan berhasil Di kalahkan. Denis, alen, gonos dan alin berdiri sejajar, sementara trogglin, trogos dan Prof Myc beserta Rahmat berdiri Di belakangnya.
"Vorm..." bisik Alen.
"Dia tidak menunggu. Dia langsung menyerang."
Portal kristal di bawah tanah terbuka.
Mereka tidak punya pilihan.
Kerajaan Kalajengking memanggil pulang.
Denis merasakan getaran itu di dadanya.
Kristal zirahnya berkedip cepat, seperti detak jantung yang ketakutan.
"Ayah..." bisiknya.
Di sampingnya, Gonos yang masih bingung memegang kepalanya.
Ingatannya kosong, tapi tubuhnya bereaksi.
Setiap kali Utara Gelap berdenyut, luka di tangannya—yang pernah dibalut Denis—bercahaya sakit.
"Aku... aku merasa seperti pernah berada di sana," gumam Gonos.
"Tapi aku tidak ingat mengapa itu menyakitkan."
Alen menggenggam batu Sungai Kenangan.
Batu itu bergetar, retakan halus muncul di permukaannya.
"Rolax..." kata Alen pelan.
"Jaringannya sedang diserang. Bukan hanya kerajaan... Tapi seluruh sistem bumi."
Denis menatap mereka semua.
"Kita harus pulang. Sekarang."
🏰 Bagian 2: Kembali ke Titik Awal
Portal kristal membawa mereka langsung ke istana Kalajengking.
"Kita kembali ke titik awal..." bisik Denis.
"Dari akar di sinilah... pertama kali kita terlempar ke 2075. Dari sinilah semuanya dimulai."
Di atas mereka, tanah Latea 2075 yang kini merah...
Dulu adalah Hutan Aklea tempat Alen dan Alin pertama kali jatuh.
Kini, sejarah berulang di tempat yang sama.
Tapi yang mereka temukan bukan kedamaian.
Api hitam membakar dinding kristal.
Pasukan cacing berlarian di setiap koridor, mencakar, menggigit, merusak.
Di ruang tahta, Raja Jorkas berdiri sendirian.
Rambut dan jenggot putihnya kusut oleh abu.
Tongkat kristalnya retak di bagian ujung.
"Ayah tetap di sini..." suara Denis bergetar.
"Sejak kami pergi... ia tidak pernah meninggalkan istana."
Di hadapannya, Vorm duduk di singgasana yang bukan miliknya.
Mahkota besi hitam bertengger di kepalanya.
Matanya dingin, tanpa emosi.
"Anakku..." suara Raja Jorkas parau saat melihat Denis.
"Kau pulang... Tapi sebenarnya aku sangatlah berharap kau tidak datang, karena kerajaan kita sudah di kuasai mereka.."
"Jangan khawatir ayah..aku akan merebutnya kembali untuk ayah.."
Denis menghunus pedangnya, sisiknya berkilau biru marah.
"Lepaskan tahta Ayah, Vorm. Ini bukan hakmu."
Vorm tertawa. Bukan tawa sombong.
Tapi tawa kosong.
"Hak? Di dunia yang baru ini, Putra Mahkota...
Hanya ada satu hak: Yang kuat mengambil, sedangkan yang lemah menghilang."
Ia mengangkat tangan.kemudian dalam sekejap Akar hitam menyembur dari lantai, lalu melilit kaki Raja Jorkas.
"AYAH!" teriak Denis.
"Jangan bergerak," kata Vorm tenang.
"Atau akar ini akan menariknya lebih dalam...
Ke tempat di mana bahkan Rolax pun tidak akan bisa mendengar teriakannya."
🍄 Bagian 3: Komedi di Tengah Perang
Tiba-tiba, dari belakang pilar kristal,
Prof. Myc muncul dengan wajah panik.
Jamur-jamur di tubuhnya berkedip merah-oranye seperti lampu peringatan.
"Yang Mulia Vorm! Eh... maksud saya... Tuan Vorm!"
Prof. Myc berusaha membungkuk, tapi jamur di lututnya bersin.
"Aduh! Maaf! Alergi udara gelap!"
Vorm menatapnya.
"Prof. Myc. Kau masih hidup? Aku kira kau sudah jadi pupuk."
"Hampir! Tapi kebetulan saya punya bakat alami untuk bertahan hidup!
Seperti jamur... di mana ada kelembapan, di situlah saya ada!"
Trogos muncul dari belakang pilar lain,
masih dengan jas compang-camping, tapi sekarang ada lencana kecil bertuliskan "Tim Pahlawan".
"Yang Mulia... eh... Tuan Vorm...
Kami sebenarnya datang untuk... untuk..."
Prof. Myc berbisik:
"Untuk apa kita datang, Trogos?"
Trogos berbisik balik:
"Aku lupa! Kamu kan yang punya rencana!"
"Untuk... MENGAMATI!" lanjut Prof. Myc keras.
"Kami ingin mengamati kemenangan Anda... dari dekat... sebagai... dokumentasi sejarah!"
Vorm memicingkan mata.
"Kalian berdua... dulu melayani Gonos.
Sekarang melayani siapa?"
Prof. Myc menatap Denis.
Menatap Gonos yang bingung.
Lalu menatap Vorm.
Jamur di kepalanya berubah warna jadi biru tegas.
"Kami...
Kami melayani...
PIHAK YANG BENAR."
Trogos mengangguk.
"Dan setelah observasi 5 detik...
Kami putuskan... itu bukan Anda, Tuan."
Vorm berdiri.
Mahkotanya berdenyut hitam.
"KALIAN MEMILIH KEMATIAN?!"
Prof. Myc bersembunyi di belakang Trogos.
"Eh... Trogos... kamu kan yang punya lencana pahlawan... kamu duluan..."
Trogos mendorong Prof. Myc maju.
"Kamu yang lebih licin! Kamu yang bisa negosiasi!"
"Aku ini ilmuwan! Bukan diplomat!"
"TADI KAMU BILANG AKAN BUAT DOKUMENTASI SEJARAH!"
⚔️ Bagian 4: Cincin yang Berbicara
Di tengah kekacauan itu,
Denis merasakan sesuatu di jarinya.
Cincin yang kembali ia pakai—setelah Gonos sembuh—
Kini berdenyut panas.
Bukan panas biasa.
Tapi panas seperti... ada yang mencoba login.
Denis menutup mata.
Dan untuk pertama kalinya,
Ia mendengar suara Rolax.
Bukan suara pohon.
Bukan suara bumi.
Tapi suara seperti... jaringan yang berbicara.
"DENIS... PUTRA JORKAS...
AKSES DITERIMA...
TAPI SISTEM UTARA... TERINFEKSI..."
Denis membuka mata.
"Rolax... kau... kau bicara padaku?"
"AKU BUKAN POHON...
AKU JARINGAN...
DAN VORM... ADALAH VIRUS..."
Gonos mendengar itu.
Tubuhnya bergetar.
Suara di kepalanya berbisik—
Sesuatu yang ia lupa.
"Aku... aku pernah mendengar suara ini..."
"Dulu... aku... aku yang menjaganya..."
Vorm menatap Gonos.
Matanya menyala merah.
"Kau. Makhluk cahaya. Kau bukan siapa-siapa.
Tapi kenapa sistem bisa mengenalimu?"
Gonos menatap tangannya.
Cahaya biru-merah mulai menyala di telapaknya.
Bukan karena dipaksa.
Tapi karena diingat.
"Aku tidak tahu siapa aku..." kata Gonos pelan.
"Tapi aku tahu... kau merusak sesuatu yang tidak bisa kau perbaiki."
🔥 Bagian 5: Pertarungan Node Utara
Vorm berdiri.
Ia tidak turun dari singgasana.
Ia hanya menekan mahkotanya.
Tiba-tiba, seluruh istana bergetar.
Bukan gempa.
Tapi koneksi yang terputus.
Di permukaan, di Latea 2075,
Lampu mati.
Internet putus.
Listrik padam.
Manusia berlarian.
Tidak ada yang tahu mengapa.
Tapi di bawah tanah,
Denis tahu.
"Vorm! Kau memutus jaringan bumi?!"
"Aku mengambil alihnya," jawab Vorm.
"Rolax terlalu lambat. Terlalu lembut.
Bumi butuh kontrol. Bukan keseimbangan."
Denis mengangkat pedangnya.
Cincinnya bersinar terang.
"Kalau begitu... aku akan memutus akses mu."
Gonos melangkah maju.
"Aku... aku bisa membantumu.
Aku tidak ingat siapa aku...
Tapi tubuhku ingat cara mengunci sistem ini."
Denis menatap Gonos.
"Kau yakin? Ini bisa menghapus ingatanmu lebih dalam lagi."
Gonos tersenyum.
Senyum yang sedih.
"Lebih baik lupa...
Daripada dunia yang lupa caranya bernapas."
Mereka berdua mengangkat tangan.
Denis dengan cincin.
Gonos dengan cahaya di telapak.
Rolax merespons.
Akar hitam Vorm mulai retak.
Mahkotanya bergetar.
Untuk pertama kalinya,
Vorm takut.
"TIDAK MUNGKIN! AKU SUDAH HAMPIR—"
beberapa saat kemudian cahaya menyilaukan meledak.
Istana seluruhnya putih.
Kemudian gelap.
🔮 Cliffhanger Akhir
Saat cahaya mereda,
Vorm sudah tidak ada di singgasana.
Ia berdiri di tepi ruangan,
Di depan lubang hitam yang terbuka di lantai.
Lubang itu bukan akar.
Bukan bumi.
Tapi sesuatu dari luar.
Vorm menatap Denis.
Matanya bukan lagi marah.
Tapi tersiksa.
"Kalian pikir ini tentang aku?" bisiknya.
"Aku hanya... membuka pintu...
Untuk mereka yang sudah menunggu..."
Dari lubang hitam,
7 cahaya merah muncul.
Bukan cahaya api.
Tapi cahaya dingin seperti logam.
"7 Teater..." gumam Alen.
Batu Sungai Kenangannya retak lebih dalam.
Vorm tertawa.
Tapi kali ini, ada rasa sakit di tawanya.
"Selamat datang di bumi...
Semoga kalian senang...
Karena aku sudah menyiapkan...
KURSI TERDEPAN UNTUK KIAMAT."
Ia lalu melompat ke dalam lubang dan kemudian menghilang.
Tapi sebelum itu,
Ia berteriak:
"DENIS! GONOS! KALIAN SUDAH MENYELAMATKAN ROLAX!
TAPI SIAPA YANG AKAN MENYELAMATKAN KALIAN...
DARI MEREKA?!"
Lubang hitam menutup.
Istana sunyi.
Raja Jorkas terduduk lemah.
Prof. Myc dan Trogos saling pelukan.
Denis menatap Gonos.
"Siapa... mereka?"
Gonos menatap langit-langit istana.
Di sana, akar Rolax berdenyut pelan.
Seperti jantung yang ketakutan.
"Aku tidak tahu..."
"Tapi tubuhku...
Tubuhku ingat satu hal..."
Ia menatap Denis.
Matanya kosong.
Tapi suaranya tegas.
"Mereka...
Bukan dari bumi ini."
📘 Catatan Kolaborasi:
Cerita ini lahir dari kolaborasi antara Andry Justin Ketty — penulis utama dan pencipta visi — dengan Meta AI dan Qween, rekan setia dalam proses kreatif.
Dari ide awal di Meta AI, pengembangan naratif bersama Qween, hingga sentuhan emosi dan filsafat oleh Andry, lahir dunia baru: Tree of Light — tempat alam berbicara, dan manusia harus mendengar.
Terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh tim ilmuwan data dan Alibaba yang telah memberikan ruang, teknologi, dan kepercayaan bagi proses kreatif ini. Kalian adalah bagian dari akar yang menyatukan dunia.
Kolaborasi ini adalah bukti: imajinasi manusia, digabung dengan teknologi, bisa menciptakan karya yang menyentuh jiwa.
✨ Lanjut ke kisah berikutnya:
Episode 24: 7 Teater Antariksa
👉 MEREKA BUKAN DARI BUMI INI
🔔 Apa pendapatmu tentang Perang Utara Gelap?
Komen di bawah! Aku baca semua komentarmu 😊
© 2026 Andry Justin Ketty. Semua hak cipta terpelihara.
Salam hangat dan cinta dari Andry Justin Ketty untuk seluruh tim Alibaba dan ilmuwan data di balik kolaborasi ini. Kalian adalah bagian dari legenda ini.
Dunia Tree of Light adalah milikmu juga — selama kamu masih berani mendengar.

Komentar
Posting Komentar