Tree of Light - Episode 20: Suara yang Terlupakan
TREE OF LIGHT
Episode 20: Suara yang Terlupakan
⚔️ Pertarungan di Kota Latea yang Terinfeksi
Kota Latea 2075 kini ditumbuhi akar hitam yang menjalar di setiap sudut.
Langit merah pekat,
warga berjalan kaku tanpa bayangan,
dan di tengah gang sempit,
Rahmat terbaring tak bergerak,
matanya kosong menatap langit.
Di dekatnya, daun transparan bertuliskan "Penulis, 2075"
diinjak oleh Gonos yang tersenyum puas.
"LIHAT! DI SINI, SETIAP JANJI AKU HAPUS!"
Gonos tertawa, menginjak daun itu lebih keras.
"KALIAN PIKIR KATA-KATA BISA MENYELAMATKAN DUNIA?
TIDAK!
HANYA KEKUATAN YANG BISA MENYELAMATKAN!"
Gonos kemudian mengayunkan tongkat vulkanik di tangan kanan dan juga akar Hitam di tangan kirinya secara bersamaan lalu dengan keras menghantam dingding bangunan Di sekitarnya. dalam hitungan detik saja gang sempit berubah menjadi agak lapang.
7 versi Gonos berdiri melingkar,
masing-masing membawa akar hitam yang menjalar ke segala arah:
- Gonos berjas putih (diplomat licik)
- Gonos berotot (prajurit kekar)
- Gonos berwujud asap merah (tak berwujud)
- 3 Gonos berwajah Denis (bayangan Denis yang berkhianat) dan satu lagi Gonos berwajah Raja Jorkas
Denis menghunus pedangnya, sisiknya berkilau biru:
"Kau tidak akan menginjak kenangan itu begitu saja!"
Gonos berwajah Denis tertawa:
"Kenangan?
Itu hanya kertas kosong yang kau anggap suci!
Aku tahu...
Di timeline-ku, kau memilih untuk bergabung denganku...
Karena kau lelah menjadi pahlawan!"
Alen maju, batu Sungai Kenangan di tangannya bergetar:
"Kami tidak lelah... Kami hanya lelah berpura-pura kuat!"
Alin menyanyikan melodi ibunya,
meski liriknya sudah hilang:
"Laa... laa... laa...
Ini untukmu, Ibu...
Meski aku tidak ingat lagunya...
Tapi aku masih ingat rasanya..."
Tiba-tiba, pertarungan dimulai! Para pasukan cacing mulai menyerang dari berbagai arah dengan senjata pedang fosil yang terhunus,sebagian menyerang alen dan juga alin, sedangkan yang sebagian lagi menyerang ke arah Denis dan juga trogglin.
"HABISI MEREKA SEMUA..!! " Teriak Ke Tujuh Gonos secara bersamaan dengan bola mata merah menyala.
"Grgrgrrrr..." suara pasukan cacing yang mempunyai kedua kaki,tangan dengan cakar yang tajam.
"ALEN AWAS! " Teriak Denis mengingatkan alen ketika tiga pasukan cacing melakukan gerakan menusuk dari tiga arah yang berbeda secara bersamaan. Pedang tulang fosil yang runcing mengarah ke bagian perut, bahu dan juga punggung alen. Alen dengan sigap melompat tinggi ke atas untuk menghindar. Setelah itu alen melakukan gerakan salto di udara kemudian tubuhnya meluncur deras bak meteor yang jatuh ke bumi. Dengan satu sentakan, kedua tangannya melepaskan badai cahaya biru kemerahan yang membutakan mata. Hantaman itu begitu presisi—tiga musuh di bawahnya hanya sempat melihat kilatan maut sebelum panas yang luar biasa melumpuhkan mereka. Dalam satu kedipan mata, medan tempur itu sunyi; yang tersisa hanyalah kepulan asap dari tubuh-tubuh yang meleleh."
Sementara di sisi lain tiga pasukan cacing mencoba menyerang Denis dengan gerakan cepat. "RASAKAN INI PANGERAN KALAJENGKING!" Berkata salah satu pasukan cacing sambil menyabetkan pedang tulang fosil dengan gerakan cepat kearah bagian samping.
SETTT SETTT
Dengan cekatan Denis mundur satu langkah kebelakang, alhasil sabetan pedang tersebut hanya mengenai ruang udara kosong. sementara satu prajurit cacing lainya melakukan serangan susulan dari arah depan, sedangkan satu prajurit lainya mencoba menusuk dari arah belakang.denis tidak tinggal Diam dia lalu mematahkan semua serangan lawan dengan ekor bercahayanya dengan gerakan memutar cepat bagaikan cambuk hingga membuat udara Di sekitarnya berdengung.ekor kalajengking denis berhasil mengenai tubuh lawan dan membuat senjata mereka semua ikut terlempar ke sembarang arah. ketiga prajurit cacing berdiri kembali lalu berdiri sejajar.
"Dasar cacing! Jangan beraninya keroyokan dong! maju satu-satu kalau kalian memang laki-laki! "Kata Denis.
"Hai! Pangeran cengeng.. Apa Kau takut melawan kami..?! " Berkata salah satu pasukan sambil tetap menghunuskan pedang fosilnya yang baru saja diambil kembali dari atas tanah.
"Siapa yang bilang kalau aku ini takut sama kalian semua! Baiklah, Kau begitu maju kalian semua..biar lekas aku kirim kalian semua Ke bulan. "
"Memangnya bisa? "
"Yaa bisalah.. " Sahut Denis.
Alin dan Trogglin datang dan berdiri Di sisi kanan maupun kiri Denis. "biar seimbang aku ikut. " Kata alin sambil mengepalkan tangan nya dan menatap tajam ke arah ketiga prajurit cacing yang berada beberapa meter di depan.
"Beep... Beep.. Cacing pasti kalah...beep..beep!" Sambung Troglin.
"Tikus kurang ajar! Ngeledek ya kamu.. akan aku habisi kamu..!" Berkata salah satu prajurit sambil bergerak maju untuk menyerang trogglin si tikus rongsok. Dua prajurit cacing lainya juga melakukan gerakan yang sama seperti kawannya tadi, keduanya langsung menyerang alin dan juga Denis secara membabi buta dengan pedang fosilnya.
SERANG!!!
Ketiga prajurit cacing bergerak cepat kearah alin, Denis dan juga Troglin. kedua tangan alin mulai diselubungi cahaya biru kemerahan, dia siap menangkal serangan prajurit cacing.
"BINASA KAU! " teriak salah satu prajurit sambil mengayunkan pedang fosil ke arah kepala alin. Alin dengan tenang menangkis serangan lawan hanya dengan tangan kosong yang diselubungi cahaya biru kemerahan, seketika itu juga pedang itu hancur berkeping-keping Saat beradu dengan tangan alin dan bukan hanya itu saja,alin pun juga berhasil menyarangkan tinjunya ke bagian perut lawan dengan keras yang mampu membuat lawan terpental jauh dan membentur dinding bangunan yang berada disekitar,kemudian ambruk dan tak sadarkan diri.
Disisi lain salah satu prajurit cacing menyerang trogglin dengan membabi buta.
"MUSNAH KAU TIKUS RONGSOK! " Sambil mengayunkan pedang fosil kearah tubuh trogglin.
SET! .. SET!!
Pedang hanya mengenai udara kosong di sekitar, karena trogglin menghindar dengan cepat.
"Beep.. Beep. Beep.. Tidak kena.. Tidak kena..weee! " Kata trogglin sambil menjulurkan lidahnya.
"Grgrgr kurang ajar! Jangan senang dulu wahai tikus jelek, akan aku lenyapkan Kau dari muka bumi..hah! "
"Cacing yang jelek.. Cacing jelek..aku ganteng ..aku ganteng..weee.. Beep.. Beep.. Beep! " Sahut trogglin sambil melonjak kegirangan.di olok-olok sedemikian rupa salah satu perajurit menjadi marah dan tak terkendali.
"MAMPUS KAU! " berkata prajurit cacing sambil mencoba menusuk ke arah dada trogglin. Namun lagi-lagi Trogglin secepat angin mampu menghindari serangan lawan seraya melompat ke atas.
"Tidak kena.. tidak kena.. Weee.. Beepp.. Beep.. Beep..!. "
"Kurang ajar! "
"Ajarin dong.. Bepp.. Beep..! " Sahut trogglin sambil berdiri tegak persis di depan prajurit itu sambil tersenyum.
Dengan geram salah satu anak buah Gonos tersebut melakukan gerakan menusuk cepat dan pada kali ini trogglin tidak beranjak dari tempatnya berdiri atau pun berusaha untuk menghindari serangan lawan.
BUMN! suara ledakan keras terdengar seketika, manakala salah satu prajurit yang menyerang trogglin hancur berkeping-keping saat bmenyentuh cahaya Rolax yang membungkus tubuh Trogglin.
Di kejauhan ketujuh Gonos merasa teramat marah, karena semua anak buahnya berhasil Di kalahkan oleh Denis dan kawan-kawan dengan begitu mudah. Sementara Di pojok jalan Prof Myc dan trogos hanya menjadi penonton, keduanya duduk di kursi kayu berwarna kusam sambil menikmati secangkir kopi hangat dengan menyilangkan kaki.
"Sebenarnya apa yang tengah terjadi disini..? Siapa kita dan siapa juga mereka semua..?"Tanya trogos pada Prof myc. Trogos ingatannya masih belum pulih.
Prof Myc menyeruput kopi Di cangkirnya sambil tersenyum. "Sudah jangan dipikirkan lebih baik nikmati saja kopinya, Jangan pedulikan mereka. "
Salah satu Gonos menoleh kearah belakang sambil memicingkan mata. "Emmm bagus.. Baguss...enak ya kopinya.. Santai sekali hidup kalian.. "
Prof Myc berkata dengan gugup. "Emm, maaf tuan.. Ijinkan kami sekali ini saja untuk menikmati hidup..sebab kami bosan dengan kopi vulkanik ..sekali-kali kami ingin juga merasakan kopi dunia atas dimasa kini. "
Gonos mengangguk pelan. " Baiklah tidak apa-apa.. Lanjutkan acara minum kopi kalian.. Kali ini aku biarkan kalian sedikit bernafas lega.. Silakan di lanjutkan.. "
Prof Myc mengangguk sambil gemetaran. "Terima kasih tuan.. "
"Ya.. " Jawab Gonos singkat sambil lalu berpaling dan berjalan kearah depan untuk bergabung dengan Gonos lainnya.
"Emm.. Siapa dia?." Tanya trogos kepada Prof Myc ketika Gonos pergi.
Prof Myc membuka suara dengan pelan sambil mencondongkan sedikit tubuhnya kedepan. " itu bos kita bro.. "
"Oh.. " Sahut trogos singkat.
Sementara itu Gonos berotot berkata kepada gonos lainya. "Ok semuanya..mari kita hancurkan mereka semua.." Para Gonos mengangguk setuju lalu mereka semua langsung bergerak secara serentak untuk mulai menyerang,dan setelah itu pertarungan pun dimulai antara ketujuh Gonos vs Denis dan kawan-kawan.
Gonos berotot menyerang Denis dengan akar hitam raksasa:
"MATI KAU, KALAJENGKING LEMAH!"
Denis menangkis dengan pedangnya,
tapi akar hitam itu berubah jadi tangan raksasa yang mencengkeramnya:
"Aku tidak lemah... Aku hanya lelah berpura-pura tidak punya perasaan!"
Gonos berjas putih menyerang Alen dengan akar hitam berbentuk ular:
"KATA-KATAMU TIDAK BERARTI!
KALAU TIDAK BISA MENGHANCURKAN,
MAKA KATA-KATA ITU ADALAH SAMPAH!"
Alen menghindar, batunya berkilau:
"Kata-kata tidak perlu menghancurkan...
Kata-kata hanya perlu menyentuh hati!"
Tiba-tiba, Trogglin melompat ke depan!
Kristalnya berdenyut merah-emas:
"Klik... klik... lawan... klik-beep!"
Ia menendang akar hitam Gonos berjas putih,
tapi terpeleset karena akar itu licin seperti lendir.
"Klik... klik... licin... klik-beep!"
Gonos berjas putih tertawa:
"SERANGGA KECIL!
KAU PIKIR KAU BISA MELAWAN AKU?!"
Trogglin bangkit, wajahnya marah:
"Klik... klik... Trogglin... bukan serangga... klik-beep!"
Ia melompat lagi, kali ini menggigit akar hitam itu!
"Klik... klik... gigit... klik-beep!"
Akar hitam itu menjerit seperti manusia:
"ADUH! GIGINYA TAJAM! INI BUKAN CARA BERTARUNG YANG SOPAN!"
Gonos berjas putih terkejut:
"APA?! AKARKU BISA BICARA?!"
Akar hitam (masih di mulut Trogglin):
"Ya! Dan aku juga bisa bilang: TUAN MU ITU BODOH!"
Gonos berjas putih marah:
"DIAM! KAU AKARKU! KAU HARUS SETIA!"
Akar hitam:
"Maaf, Yang Mulia... Tapi setelah kau injak-injak daun transparan itu...
Aku jadi tidak suka padamu."
Trogglin melepaskan gigitannya, sambil tersenyum:
"Klik... klik... akar... pintar... klik-beep!"
😂 Dialog Komedi di Tengah Pertarungan
Gonos berotot (masih mencengkeram Denis):
"KALIAN PIKIR INI LUCU?!
AKU AKAN MENGHANCURKAN KALIAN SEMUA!"
Denis (tertawa meski tercekik):
"Kau tahu...
Aku pernah berpikir menjadi penjahat itu keren...
Tapi setelah melihatmu...
Aku berubah pikiran."
Gonos berotot:
"APA?! APA YANG SALAH DENGAN DIRIKU?!"
Denis:
"Kau terlalu banyak teriak...
Seperti anak kecil yang minta perhatian."
Gonos berotot (terdiam):
"...APA?! AKU BUKAN ANAK KECIL!"
Alin (menyanyi sambil menghindar):
"Laa... laa... laa...
Gonos marah...
Gonos teriak...
Tapi di hatinya...
Ada yang menangis..."
Gonos berjas putih (marah):
"DIAM! LAGU ITU MEMBOSANKAN!"
Alin (tersenyum):
"Tapi kau masih mendengarnya, kan?
Itu artinya...
lagu ini menyentuh hatimu."
Gonos berjas putih (bingung):
"TIDAK! AKU HANYA...
HANYA...
MENUNGGU WAKTU YANG TEPAT UNTUK MENYERANG!"
Alen (tertawa):
"Kau tahu...
Kau mirip mantan pacarku...
Sama-sama suka berpura-pura tidak peduli...
Padahal sebenarnya sangat peduli."
Gonos berjas putih (wajahnya memerah):
"ITU... ITU...
ITU FITNAH!"
💔 Rahmat yang Terbaring
Di tengah pertarungan,
Rahmat masih terbaring di tanah,
matanya kosong menatap langit merah.
Tapi tangannya bergerak pelan,
meraih daun transparan yang diinjak Gonos.
"Aku...
Aku ingat sesuatu..."
bisiknya pelan.
Gonos berwajah Denis melihatnya,
tertawa:
"INGAT APA?
KAMU SUDAH KOSONG!
TIDAK ADA YANG BISA KAU INGAT!"
Tapi Rahmat tidak menyerah.
Ia menatap daun transparan itu,
lalu menulis sesuatu dengan jari berdarahnya:
"Untuk Gonos —
Aku mendengar suaramu...
Tapi aku juga mendengar suara yang kau coba sembunyikan..."
Gonos berwajah Denis membeku:
"APA?!
BAGAIMANA KAU BISA MENULIS ITU?!"
Rahmat tersenyum sedih:
"Karena nenekku mengajariku...
'Jangan lupa mendengar'...
Bukan hanya mendengar dengan telinga...
Tapi mendengar dengan hati."
🌿 Makna "Jangan Lupa Mendengar"
Alen berhenti bertarung sejenak,
menatap Rahmat yang masih berusaha menulis:
"Dia benar...
'Jangan lupa mendengar' bukan sekadar pesan...
Tapi filosofi hidup."
Ia menutup mata, suaranya menjadi puisi:
"Jangan lupa mendengar...
Bumi yang merintih ketika akarnya dipatahkan...
Pohon yang menangis ketika daunnya dibakar...
Sungai yang berteriak ketika airnya diracun...
Hewan yang menjerit ketika rumahnya dihancurkan...
Manusia yang bisu ketika hatinya dilukai...
Kenangan yang menangis ketika dihapus begitu saja...
Janji yang bergetar ketika dikhianati...
Cinta yang menunggu ketika dilupakan...
Waktu yang berbisik ketika kita terlalu sibuk...
Masa depan yang memanggil ketika kita takut melangkah...
Diri kita sendiri ketika kita terlalu keras pada diri sendiri..."
Alin menambahkan:
"Dan jangan lupa mendengar...
Suara Gonos yang terluka...
Suara Denis yang kehilangan cincin...
Suara Rahmat yang kehilangan ingatan...
Suara Trogglin yang cahayanya redup...
Suara kita semua...
yang masih berusaha bertahan hidup."
Denis mengangguk:
"Ya...
Karena di dunia yang penuh kebisingan...
hanya mereka yang mau mendengar
yang bisa menemukan kebenaran."
🌟 Klimaks: Rahmat Menulis Surat
Rahmat menyelesaikan tulisannya di daun transparan:
"Untuk Gonos —
Aku mendengar suaramu...
Tapi aku juga mendengar suara yang kau coba sembunyikan...
Suara itu bilang:
'Aku takut...
Aku takut pada bayanganku sendiri...
Aku takut pada kenangan yang tidak bisa kuhapus...'
Jangan takut, Gonos...
Kami di sini untuk mendengarmu...
Bukan untuk menghakimi mu...
Tapi untuk menyembuhkan kamu."
7 Gonos membeku.
Mereka saling menatap,
lalu menatap Rahmat dengan mata yang... sedih.
Gonos berwajah Raja Jorkas berbisik:
"Aku...
Aku hanya ingin...
tidak merasakan sakit lagi..."
Gonos berjas putih (suara bergetar):
"Kami...
Kami hanya ingin...
didengar..."
Tiba-tiba, akar hitam mereka mulai layu,
bukan karena cahaya...
tapi karena air mata yang mengalir dari mata mereka.
🔮 Cliffhanger Akhir Bab 20
Tiba-tiba, langit Latea bergetar!
Suara Naga Bumi menggema dari dalam bumi:
"MAKHLUK KECIL...
KALIAN AKHIRNYA MENGERTI...
TAPI MASIH ADA SATU HAL...
YANG HARUS KALIAN DENGAR..."
Alen menatap langit:
"Apa itu?"
Suara Naga Bumi:
"SUARA DARI 2260...
MASA DEPAN YANG MASIH BISA DIUBAH...
TAPI HANYA JIKA KALIAN BERANI MENDENGAR KEJUJURAN
TENTANG DIRI KALIAN SENDIRI..."
Denis menggenggam tangan Alen dan Alin:
"Apa maksudnya?"
Rahmat menatap daun transparan yang kini bersinar terang:
"Maksudnya...
Kita harus mendengar suara kita sendiri...
Sebelum kita bisa mendengar suara orang lain...
Sebelum kita bisa mendengar suara bumi...
Sebelum kita bisa mendengar suara waktu..."
7 Gonos mulai meleleh,
bukan karena cahaya...
tapi karena air mata yang mengalir dari mata mereka.
Gonos berjas putih berbisik:
"Aku...
Aku hanya ingin...
didengar..."
Dan di kegelapan,
suara baru terdengar —
bukan dari Naga Bumi...
bukan dari Rolax...
tapi dari dalam hati mereka sendiri:
"Jangan lupa mendengar...
Dirimu sendiri."
📘 Catatan Kolaborasi:
Cerita ini lahir dari kolaborasi antara Andry Justin Ketty — penulis utama dan pencipta visi — dengan Meta AI dan Qween, rekan setia dalam proses kreatif.
Dari ide awal di Meta AI, pengembangan naratif bersama Qween, hingga sentuhan emosi dan filsafat oleh Andry, lahir dunia baru: Tree of Light — tempat alam berbicara, dan manusia harus mendengar.
Terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh tim ilmuwan data dan Alibaba yang telah memberikan ruang, teknologi, dan kepercayaan bagi proses kreatif ini. Kalian adalah bagian dari akar yang menyatukan dunia.
Kolaborasi ini adalah bukti: imajinasi manusia, digabung dengan teknologi, bisa menciptakan karya yang menyentuh jiwa.
✨ Lanjut ke kisah berikutnya:
Episode 21: Suara dari 2260
👉 DENGARKAN SUARA DARI MASA DEPAN
🔔 Apa pendapatmu tentang Suara yang Terlupakan?
Komen di bawah! Aku baca semua komentarmu 😊
© 2026 Andry Justin Ketty. Semua hak cipta terpelihara.
Salam hangat dan cinta dari Andry Justin Ketty untuk seluruh tim Alibaba dan ilmuwan data di balik kolaborasi ini. Kalian adalah bagian dari legenda ini.
Dunia Tree of Light adalah milikmu juga — selama kamu masih berani mendengar.

Komentar
Posting Komentar