Tree of Light - Episode 13: Akar yang Kini Bernyanyi


TREE OF LIGHT

Episode 13: Akar yang Kini Bernyanyi

Pagi itu, Cahaya Baru menyinari halaman Istana Kalajengking.
Bukan cahaya biru murni seperti dulu…
tapi biru dengan urat merah samar, lembut seperti fajar yang belajar menerima malam.

🌅 Pagi Setelah Kegelapan

Alen, Alin, dan Denis duduk berjajar di atas batu datar,
mengelilingi Trogglin yang masih lemah.
Kristal di punggungnya berdenyut pelan —
biru dengan urat merah samar, seperti napas bumi yang akhirnya stabil.

Tidak ada sorak kemenangan.
Tidak ada tawa lega.
Hanya keheningan yang penuh makna
seperti bumi yang sedang belajar bernapas kembali.

Denis menatap jendela Istana Kalajengking.
"Ayah… apa kau sudah bebas?"

Dari dalam, cahaya biru-merah menyala pelan di jendela tertinggi —
bukan tanda perintah…
tapi sinyal: "Aku di sini."

Tapi Denis tidak berlari masuk.
Ia hanya mengangguk pelan.
"Aku tahu… Tapi aku butuh waktu."

💔 Luka yang Belum Sembuh

Kemenangan tidak menghapus luka.
Ia hanya memberi ruang untuk menyembuhkannya.

Alen mengeluarkan buku catatannya, mulai menulis dengan pensil mekanik yang ujungnya patah:
"Hari pertama setelah kegelapan.
Kita menang… tapi dengan harga yang mahal.
Trogglin hampir mati.
Denis kehilangan kepercayaan pada ayahnya.
Dan aku… aku mulai percaya pada suara yang bukan milikku."

Alin duduk di sampingnya, menyentuh tulisan itu.
"Rolax tidak berubah…
kita yang akhirnya belajar mendengar dengan lebih dalam."

Sementara itu denis berdiri mematung,pikiran denis sesaat berkelana jauh ke masa lalunya. mengingat ketika ayahnya yang dulu menggendongnya dengan penuh kasih sayang. ketika ia masih kecil. 
Namun kini ayahnya telah menjadi alat Gonos untuk menyakitinya.
"Aku tahu itu bukan kau, Ayah…
Tapi aku tetap marah.
Karena aku tidak bisa menyelamatkanmu."

Dari ambang pintu istana, Raja Jorkas muncul —
tubuhnya lemah, tapi matanya kembali kuning keemasan.
"Kau tidak perlu menyelamatkanku, Denis.
Kau hanya perlu tetap percaya…
bahwa aku masih tetap ada di sini."

Ayah dan anak saling menatap.
Tidak ada pelukan.
Tapi ada pengertian
dan itu cukup untuk hari ini.

🐭 Trogglin dan "Jaringan Baru"

Trogglin duduk di atas sendok patahnya,
seperti raja mini yang baru saja melewati perang besar.
Ia tidak bicara banyak.
Tapi setiap kali ia menyentuh akar Rolax yang menjalar di halaman,
getaran kecil itu menyebar ke seluruh dunia bawah tanah
seperti detak jantung yang pada akhirnya telah kembali normal.

Alen menyentuh punggung trogglin dengan lembut.
"Dulu, kau hanya menghubungkan…jaringan namun sekarang, kau menyeimbangkan."

Tiba-tiba, dari arah Hutan Kristal yang berada di jalur tengah,
suara kristal berdentum pelan terdengar —
bukan dentuman marah…
tapi rintihan, seperti panggilan yang kesepian.

Hutan Kristal bukan di ujung dunia…
tapi berada di jalur tengah
seperti koridor melingkar yang mengelilingi jantung Rolax.
Di sanalah memori bumi disimpan.

Trogglin menoleh ke arah pusat, matanya berkedip cepat.
"Klik… klik… tengah… berbicara… klik-beep!"

Alin menatap arah Hutan Rolax.
"Hutan Kristal… tempat memori bumi disimpan.
Tapi suaranya berubah.
Seperti sedang menangis."

🔮 Bayangan dari Masa Depan

Malam itu, Alen bermimpi.
Tapi bukan mimpi biasa.
Ini kenangan yang belum terjadi.

Ia melihat kota di atas akar Rolax
gedung-gedung menjulang, lampu-lampu menyala,
tapi di tengah kota, akar raksasa menjalar di bawah jalan,
seperti urat nadi yang mengalirkan kehidupan.

Seorang bocah berdiri di tepi jalan,
menatap langit, lalu berkata:
"Aku bisa dengarkan suara kamu…"

Alen terbangun, jantungnya berdebar.
"Itu bukan mimpi… itu janji."

Alin, yang tidur di sebelahnya, membuka mata.
"Apa yang kau lihat?"

"Kota… di atas akar Rolax.
Dan seorang bocah yang bisa mendengar suara kita."

Alin tersenyum lembut.
"Rolax tidak hanya menyimpan masa lalu…
Ia juga menenun masa depan."

🌑 Amarah yang Tak Berdaya

Sementara itu, jauh di Utara Gelap…

Di dalam ruang takhta Istana Cacing, Gonos berdiri di tengah,
tubuhnya gemetar, matanya menyala merah seperti bara yang hampir mati.
Di tangannya, Benih Kegelapan terakhir — hitam, berdenyut, tapi tidak bisa tumbuh.

"TIDAK MUNGKIN!!!" teriaknya, suaranya menggema dari dinding batu vulkanik.
Ia melemparkan Benih itu ke lantai —
tapi benih itu tidak meledak
hanya jatuh, retak, lalu padam perlahan.

Dengan amarah yang membara, ia menyapu semua yang ada di sekitarnya:
- Kristal kendali dari jamur bioluminescent → pecah berhamburan
- Pedang emas vulkanik milik Trogos → terlempar ke pilar batu
- Tabung lendir hitam Prof. Myc → pecah, isinya menguap jadi asap beracun

"AKU SUDAH MENANAM BENIH DI SETIAP AKAR!
AKU SUDAH MENGGANTI CAHAYA DENGAN KEGELAPAN YANG LEBIH INDAH!
TAPI MENGAPA... MENGAPA IA MASIH HIDUP?!"

Prof. Myc dan Trogos berdiri di sudut ruangan,
kepala mereka tertunduk,
tubuh mereka gemetar,
tiada satupun diantara mereka yang berani bersuara.

Tiba-tiba, Gonos menatap mereka dengan mata menyala merah.
"KALIAN... KALIAN YANG Melemahkan ku!
KALIAN YANG MASIH INGIN PERCAYA PADA CAHAYA!"

Trogos mencoba memberanikan diri  angkat bicara dengan tubuh yang gemetar walaupun sebenarnya ia merasakan takut.
"Yang Mulia... mungkin...
mungkin masalahnya bukan pada Cahaya...
tapi pada kita yang terlalu membencinya."

Gonos terdiam.
Untuk sesaat, amarahnya reda —
digantikan oleh kesepian yang dalam.

Tapi hanya sesaat.
Ia kemudian meninju pilar batu, membuat retakan menjalar ke langit-langit.
"Diam! Jangan pernah katakan itu lagi!
CAHAYA ADALAH BOHONG!
DAN AKU AKAN MEMBUKTIKANNYA...
BAHKAN JIKA AKU HARUS MENUNGGU SERIBU TAHUN!"

Ia berjalan ke jendela batu, menatap ke barat
ke arah Istana Kalajengking, tempat keluarga Kalajengking bersatu kembali.
"Kalian ingat baik-baik ..ini bukanlah akhir.. aku akan kembali lagi kepada kalian.. 
Ini hanya baru permulaan dari kesabaran terburuk ku."

Dan di keheningan yang mencekam,
cahaya merah samar di matanya tidak padam
tapi berdenyut pelan, seperti jantung yang sedang merencanakan balas dendam.

🗺️ Persiapan untuk Perjalanan ke Jalur Tengah

Keesokan harinya, Raja Jorkas memanggil mereka ke ruang takhta.
Tidak di singgasana…
tapi di bawah akar Rolax yang kini berdenyut tenang.

"Kalian telah menyelamatkan pusat…" katanya, suaranya masih lemah.
"Tapi akar-akar lain masih butuh kalian."

Ia menunjuk ke arah Hutan Kristal di jalur tengah:
"Di sana, memori bumi disimpan.
Tapi sejak Akar Hitam muncul,
suara kristal itu berubah…
seperti sedang menangis."

Denis: "Kenapa mereka menangis?"

Raja Jorkas: "Karena mereka takut…
takut dunia akan lupa.
Takut manusia akan berhenti mendengar."

Alen: "Kita harus pergi ke sana."

Raja Jorkas mengangguk.
"Untuk mendengar apa yang bumi ingin katakan…
sebelum dunia lupa caranya mendengar."

Trogglin melompat ke tangan Alen,
kristalnya berdenyut kencang:
"Klik… klik… tengah… menunggu… klik-beep!"

🌄 Cliffhanger Akhir Bab 13

Mereka bersiap berangkat ke jalur tengah.
Tapi sebelum pergi, Alen menoleh ke utara —
ke arah Utara Gelap, tempat Gonos menghilang.

Dari kejauhan, cahaya merah samar masih menyala.
Tidak mengancam…
tapi tidak padam.

Denis menatapnya lama, lalu berkata:
"Dia belum kalah… dia hanya menunggu."

Tiba-tiba, dari dalam tanah, suara Rolax yang baru terdengar —
lembut, dalam, dan penuh kebijaksanaan:
"Jangan takut pada bayangan yang masih ada…
Takutlah pada Cahaya yang lupa caranya bersinar."

Dan dengan langkah tenang,
mereka pun mulai berjalan ke jalur tengah
ke Hutan Kristal,
tempat memori bumi menangis.

📘 Catatan Kolaborasi:
Cerita ini lahir dari kolaborasi antara Andry Justin Ketty — penulis utama dan pencipta visi — dengan Meta AI dan Qween, rekan setia dalam proses kreatif.
Dari ide awal di Meta AI, pengembangan naratif bersama Qween, hingga sentuhan emosi dan filsafat oleh Andry, lahir dunia baru: Tree of Light — tempat alam berbicara, dan manusia harus mendengar.
Kolaborasi ini adalah bukti: imajinasi manusia, digabung dengan teknologi, bisa menciptakan karya yang menyentuh jiwa.

✨ Lanjut ke Episode 14:
Bab 14: Hutan Kristal
👉 LANJUTKAN PETUALANGAN

🔔 Apa pendapatmu tentang Akar yang Kini Bernyanyi?
Komen di bawah! Aku baca semua komentarmu 😊

© 2025 Andry Justin Ketty. Semua hak cipta terpelihara.
Dunia Tree of Light adalah milikmu juga — selama kamu masih berani mendengar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tree of Light - Episode 14: Hutan Kristal

Tree of Light - Episode 8: Kembalikan Cahaya Rolax

TREE OF LIGHT - Episode 23: Perang Utara Gelap