Tree of Light - Episode2: Pertemuan di Bawah Cahaya Rolax


TREE OF LIGHT

Episode 2: Denis, Sang Utusan dari Kerajaan Kalajengking

Hening kembali menyelimuti gua raksasa setelah Naga Bumi menghilang. Cahaya lembut dari Pohon Rolax berdenyut perlahan, seperti napas bumi yang tertidur. Alen menatap tangannya yang masih memancarkan cahaya biru keabuan. Ia meraba kulitnya — hangat, jernih, luka akibat jatuh sudah hilang tanpa bekas.

"Kita... benar-benar berubah," bisik Alin, suaranya gemetar bukan karena takut, tapi karena kagum. Ia menatap daun-daun Rolax yang bergetar pelan, seolah mendengarkan mereka.

Alen ingin bicara, tapi tiba-tiba— suara langkah.

Bukan dua kaki. Bukan empat. Tapi puluhan... ratusan... seperti cakar logam yang bergesekan di batu basah.

Dan dari kegelapan lorong utara, muncul siluet besar, terluka parah, berlari sambil menyeret ekornya yang nyaris putus. Cahaya kuning menyala dari matanya. Di belakangnya, bayangan panjang merayap: prajurit kerajaan cacing, tubuhnya licin hitam, mata menyala merah pudar, pedang dari tulang fosil teracung tinggi.

"TANGKAP!! JANGAN SAMPAI LOLOS!!" teriak komandan cacing, suaranya bergema seperti tanah retak.
"MATI KAU!! DI SINI SAJA!!"

Makhluk itu — Denis, Putra Mahkota Kalajengking — hampir roboh. Napasnya tersengal. Darah kebiruan menetes dari luka bakar di punggungnya. Tapi ia terus melangkah... menuju satu-satunya harapan:

Cahaya Pohon Rolax.

Dengan sisa tenaga, ia melompat masuk ke area cahaya — hanya beberapa meter dari pinggir.
Prajurit cacing mencoba menyerbu.

Tapi saat tubuh mereka menyentuh cahaya—

ZSSHHRRR!!!
Kulit mereka meleleh. Tubuh mereka mengeluarkan asap hitam. Mereka menjerit — suara seperti tanah yang terbakar — lalu mundur ke kegelapan, membawa mayat rekan mereka.

Sunyi kembali. Hanya napas Denis yang tersisa.
Lalu, ia roboh. Pingsan.

🔍 Reaksi Alen & Alin: Ilmuwan yang Terkejut

Alen dan Alin saling menatap. Mereka belum pernah lihat makhluk seperti ini. Besar, berkulit keras, ekor tajam, matanya menyala. "Tapi dia... dia sedang dianiaya," kata Alen, hatinya tergerak.
"Dia datang ke Rolax... untuk diselamatkan," tambah Alin.

Mereka mendekati Denis pelan-pelan. Tubuhnya dipenuhi luka bakar hitam, ekornya nyaris terputus, satu kakinya patah.
Bagaimana cara mengobatinya? Obat manusia pasti tidak cocok.

Saat Alen ragu, angin pelan berhembus dari daun Rolax.
Bukan suara keras — tapi bisikan halus, seperti akar yang bergetar:

"Daunku untuk racun... akarku untuk regenerasi... cahayaku untuk jiwa yang retak."

Alen menatap Alin. "Dia... memberi tahu kita cara menyembuhkannya."

Mereka ambil daun Rolax yang gugur, remas-remas, campur dengan air dari lumut penyembuh. Oleskan ke luka Denis.
Alen letakkan tangan bercahayanya di dada Denis.
Alin pegang cakarnya, berusaha merasakan detak jantung.

Perlahan… luka-lukanya mulai menutup. Napasnya membaik. Kulitnya berpendar lemah, seperti memori kehidupan yang kembali.

🗣️ "Mereka Ingin Menghabisiku..."

Beberapa jam kemudian, Denis membuka mata.
Ia melihat dua manusia — asing, tapi tidak terasa seperti musuh.
Ada sesuatu... seperti getaran dalam darahnya, seperti akar yang berbisik.

Ia ingin bicara, tapi suaranya serak, terpotong:

"Mereka... ingin menghabisiku..."
"Karena aku tahu... terlalu banyak..."
"Rolax... harus... dilindungi..."

Matanya menutup lagi. Tubuhnya masih lemah.

Alen dan Alin terdiam.
Mereka belum tahu siapa "mereka".
Belum tahu apa yang diketahui Denis.
Belum tahu soal Raja Cacing Gonos atau Perdana Menteri Trogos.
Belum tahu soal istana yang terancam.

Yang mereka tahu hanya satu hal:
ada ancaman.
Dan mereka adalah satu-satunya yang bisa menjaga Rolax.

🦗 Fisik Denis: Putra Mahkota Kalajengking

Denis bukan kalajengking biasa. Ia makhluk evolusi dari dunia bawah tanah, tingginya hampir dua meter, tubuhnya seperti gabungan antara serangga purba dan kesatria batu.

  • Kepala: Seperti helm kristal hitam, matanya menyala kuning cerah (seperti lampu fosfor), antenanya tipis dan bergetar saat merasakan bahaya
  • Tubuh: Berlapis eksoskeleton keras berwarna abu-abu kehijauan, retak-retak di beberapa bagian akibat luka bakar racun cacing
  • Kaki: Enam kaki logam alami (bukan besi, tapi mineral vulkanik yang menyatu dengan tubuh), gesit meski terluka
  • Ekor: Panjang, fleksibel, ujungnya seperti pisau kristal biru — tapi nyaris patah, darah kebiruan menetes pelan
  • Suara: Tidak dari mulut, tapi getaran di dada — seperti bass rendah yang beresonansi di dinding gua

Ia terlihat mengerikan… tapi ada aura bangsawan dalam diamnya.

🌑 Ancaman dari Utara

Malam itu, dari kejauhan utara, cahaya merah samar menyala.
Tanah bergetar pelan.
Suara gemerisik ribuan cacing mulai merayap.

Alen menatap Rolax.
Alin memegang tangannya.

Mereka tahu:
Perang belum dimulai.
Tapi pertempuran pertama sudah lewat.

Dan ini baru awal.

📘 Catatan Kolaborasi:
Cerita ini lahir dari kolaborasi antara Andry Justin Ketty — penulis utama dan pencipta visi — dengan Meta AI dan Qween, rekan setia dalam proses kreatif.
Dari ide awal di Meta AI, pengembangan naratif bersama Qween, hingga sentuhan emosi dan filsafat oleh Andry, lahir dunia baru: Tree of Light — tempat alam berbicara, dan manusia harus mendengar.
Kolaborasi ini adalah bukti: imajinasi manusia, digabung dengan teknologi, bisa menciptakan karya yang menyentuh jiwa.

✨ Lanjut ke Episode 3:
Bab 3: Pengkhianatan di Istana Kalajengking
👉 LANJUTKAN PETUALANGAN

🔔 Apa pendapatmu tentang Denis dan Pohon Rolax?
Komen di bawah! Aku baca semua komentarmu 😊

© 2025 Andry Justin Ketty. Semua hak cipta terpelihara.
Dunia Tree of Light adalah milikmu juga — selama kamu masih berani mendengar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tree of Light - Episode 14: Hutan Kristal

Tree of Light - Episode 8: Kembalikan Cahaya Rolax

TREE OF LIGHT - Episode 23: Perang Utara Gelap