Tree of Light - Episode 5: Rahasia di Balik Gerbang Istana


TREE OF LIGHT

Episode 5: Rahasia di Balik Gerbang Istana

Denis berdiri kaku di depan singgasana batu, ekornya bergetar kencang.
Matanya tak bisa berpaling dari sosok yang mirip ayahnya — Raja Jorkas — tapi kulitnya berkilau dengan emas vulkanik, matanya menyala merah pudar.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA AYAHKU?!" teriaknya, suaranya bergetar.

Sosok itu tersenyum licik. "Kami tidak melakukan apa-apa. Ayahmu... memilih ini sendiri."

Alen dan Alin saling menatap, cahaya Rolax di tangan mereka mulai berdenyut kencang.
Dari kegelapan, suara Trogos terdengar:
"Maaf, Denis... tapi ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan istana."

Gerbang istana di belakang mereka tiba-tiba menutup.
Mereka terjebak.

⚔️ Pertempuran di Aula Istana

Tiba-tiba, dari semua sisi istana, muncul puluhan pasukan cacing — tubuhnya licin hitam, mata menyala merah pudar, pedang dari tulang fosil teracung tinggi. Mereka bergerak cepat, seperti gelombang hitam yang mengalir di lantai batu vulkanik.

"TANGKAP MEREKA!! PULUHAN PASUKAN CACING BERGERAK MENGEPUNG DENGAN SENJATA DI TANGAN!!"
"HABISI MEREKA SEMUA!! JANGAN BIARKAN MEREKA LOLOS!!"

Denis berdiri di depan Raja Jorkas yang terkontrol, ekor kalajengking nya siap siaga siap melindungi ayahnya dari segala kemungkinan yang akan terjadi. 
Alen dan Alin saling berpandangan, cahaya Rolax di tangan mereka mulai berdenyut kencang.

Tapi sebelum pasukan cacing mendekati allen,denis dan juga alin..

"HENTIKAN!!"

Suara keras menggema dari lorong utara.
Dari kegelapan, muncul Pasukan Ekor Bercahaya — prajurit Kalajengking asli dengan ekor bercahaya merah, berbaris rapi di depan pintu istana.

Komandan Pasukan Ekor Bercahaya melangkah maju, suaranya berat:
"Denis... Putra Mahkota. Kami datang untuk melindungi Raja."

Denis terkejut. "Tapi... Trogos bilang kalian sedang beristirahat..."

Komandan itu mengangguk. "Kami memang sedang 'beristirahat'... dalam pengaruh emas vulkanik. Tapi cahaya Rolax kalian membangunkan kami."

Trogos tiba-tiba melangkah maju, wajahnya tetap tenang, senyum liciknya tidak pernah hilang.
"Oh, jadi kalian sudah bangun? Sayang sekali... karena kalian datang terlambat."

Ia menunjuk ke sosok Raja Jorkas yang terkontrol:
"Lihat! Ayahmu akhirnya bisa berdiri lagi! Tanpa rasa sakit!
Apa yang kalian bawa? Hanya kegelapan dan kehancuran!"

Denis menggertak: "Itu bukan ayahku! Kau telah menghancurkannya!"

Trogos tertawa pelan. "Mungkin... tapi setidaknya, aku masih berani mengambil risiko.
Berbeda dengan kalian... yang hanya bisa bersembunyi di balik kekuatan cahaya Rolax."

Tapi kali ini, Pasukan Ekor Bercahaya tidak percaya pada Trogos.
Mereka melihat ke Raja Jorkas yang matanya menyala merah pudar, kulitnya berkilau dengan emas vulkanik.

Komandan Pasukan Ekor Bercahaya berteriak:
"MEREKA BUKAN PENJAGA ISTANA! MEREKA CACING YANG MENYAMAR!!
BUNUH MEREKA!! UNTUK RAJA KALAJENGKING!!"

Pertarungan dramatis dimulai:
- Prajurit Kalajengking vs Prajurit Cacing yang menyamar sebagai penjaga istana
- Ekor bercahaya vs Pedang tulang fosil
- Cahaya merah vs Cahaya biru keabuan dari Rolax

ZSSHHRRR!!!
Saat cahaya Rolax menyentuh prajurit cacing, mereka seketika meleleh seperti plastik  terbakar.
Tapi pasukan cacing terus menyerbu — jumlah mereka jauh lebih banyak.

Alen berteriak: "DENIS! KITA HARUS MEMUTUS KONEKSI GONOS DENGAN RAJA JORKAS!"

Denis mengangguk. "Tapi bagaimana caranya? Sedangkan Kita masih terjebak di sini!"

Tiba-tiba, dari kegelapan, terdengar suara yang familiar:
"AKU AKAN MELAKUKANNYA!"

🐸 Glowtoad Datang Menyelamatkan

Dari langit-langit istana, muncul Glowtoad — kodok besar bercahaya biru kehijauan. Ia melompat turun dengan gaya dramatis, perut transparannya berpendar.

"Jangan panik!" katanya dengan suara berat tapi puitis.
"Aku Glowtoad, Kodok Penyair. Dan aku punya puisi penyelamat!"

Ia menepuk perut transparannya yang bercahaya:
"Dengarlah, hai emas vulkanik yang palsu...
Hai cahaya merah yang tak tulus...
Kembalikan sang raja pada putranya...
Sebelum fajar palsu menyingsing!"

Sosok Raja Jorkas bergetar. Matanya berkedip-kedip, seperti sedang berusaha melawan kontrol dari pengaruh reaksi racun emas vulkanik.

"Denis..." suara asli Raja Jorkas terdengar lemah.
"Putraku... tolong... aku masih di sini..."

🌍 Denis Menghadapi Trogos

Denis berjalan mendekati Trogos, ekornya bergetar marah.
"Mengapa,kamu jadi penghianat dan bersekutu dengan bangsa cacing Trogos? Selama ini Ayah ku begitu percaya kepada mu, tapi apa balasan mu sekarang?!"

Trogos tidak menunjukkan penyesalan dan rasa bersalah Di wajahnya. Ia tetap tersenyum licik, suaranya tenang:

"Denis... kau tidak mengerti. Ini bukan pengkhianatan... ini adalah penyelamatan.
Gonos menawarkan kekuatan yang bisa menyembuhkan ayahmu.
Dan kalian... kalian datang justru menghancurkan kesempatan terakhirnya untuk tetap hidup."

Ia menunjuk ke sosok Raja Jorkas yang terkontrol Di bawah pengaruh emas vulkanik:
"Lihat! Ayahmu akhirnya bisa berdiri lagi! Tanpa rasa sakit!
beliau telah sembuh denis.."

Denis menggertak: "Itu bukan ayahku! Kau telah menghancurkannya!"

Trogos tertawa pelan. "Mungkin... tapi setidaknya, aku masih berani mengambil keputusan penting. 
Berbeda dengan kalian... yang tidak bisa berbuat sesuatu sama sekali untuk kesembuhan sang raja

Alen maju selangkah lalu berdiri Di sebelah denis. "Tapi kau tidak melihat, Trogos? Obat itu tidak menyembuhkan... ia menghancurkan."

"Wahai manusia permukaan tanah.. Jangan kau ikut campur dengan segala urusan mahluk bawah tanah.. Urus saja diri mu sendiri dan bangsa kalian itu yang menjadi perusak bumi!" Ucap Trogos penuh penekanan sambil menatap tajam kepada alen. 

"Hei.. Kau! " Sahut alen kesal sambil mengepal keras,kepalan kedua tangannya. 

Denis maju selangkah sambil berkata penuh amarah. matanya menatap tajam kepada trogos yang berdiri Di depannya."Asal kamu tau trogos. mereka berdua datang karena mereka telah Di pilih rolax untuk menjadi penjaganya yang baru.

"Hahaha..Jangan percaya dengan manusia Denis.. mereka adalah kaum yang selalu membuat kerusakan, penuh dengan tipu daya" Sahut Trogos  datar sambil menyunggingkan bibirnya. . 

"DIAM.. KAMU TROGOS!" Bentak Denis sang putra mahkota kerajaan kalajengking. 

Trogos tidak tergoyahkan. "Aku melihat satu hal: ayahmu bisa berdiri.
Dan kalian... kalian hanya bisa berdiri di sini, berbicara tentang cahaya yang tidak akan pernah bisa menyembuhkan sang raja dari penyakit yang Di deritanya. dan Rolax tidak bisa menyelamatkan sebagian dari penduduk Dunia bawah tanah dari kegelapan."

🔮 Pengungkapan Rahasia Emas Vulkanik

Sosok Raja Jorkas tiba-tiba berteriak kesakitan. Emas vulkanik di kulitnya mulai retak.

"Denis... dengar..." suara Raja Jorkas terdengar lemah.
"Emas vulkanik... bukan obat... tapi jebakan... Gonos tahu aku sakit... ia menawarkan obat palsu..."

Denis berlari ke singgasana. "Ayah... aku di sini."

"Putraku... kau harus... menghancurkan... gerbang utara..." bisik Raja Jorkas.
"Itu satu-satunya cara... untuk memutus koneksi Gonos..."

Alin tiba-tiba menyadari sesuatu. "Gerbang utara... itu adalah sumber emas vulkanik! Jika kita hancurkan, koneksi Gonos ke istana akan terputus!"

Alen mengangguk. "Tapi siapa yang akan melakukannya? Sedangkan Kita masih terjebak di sini."

🐭 Trogglin Menyelamatkan Hari

Trogglin, tikus rongsok bercahaya biru, muncul dari balik pilar batu. Ia membawa sendok patah yang menjadi ciri khasnya dan batu kristal kecil.

"Klik-klik... Rolax... aman... cacing... utara... berbahaya... klik-beep!"
"Trogglin... akan... hancurkan... gerbang... klik-klik!"

Alen tertawa kecil. "Dia nggak bisa nyerang... tapi kalau kamu butuh tukang ledak dadakan, dialah yang paling jago!"

Trogglin mengangguk-angguk cepat, lalu bergegas berlari ke arah gerbang utara dengan sendok patah di mulutnya.

💥 Ledakan di Gerbang Utara

Setibanya di gerbang utara Kerajaan kalajengking. trogglin  langsung melakukan pekerjaannya dengan cepat. 

BUMM! 

Seketika itu juga gerbang utara hancur lebur, ledakan besar membuat Tanah bergetar kencang.
Cahaya merah mulai memendar memenuhi ruang udara Di sekitar. 

"Klik-klik... berhasil... klik-beep!" terdengar suara Trogglin dari kejauhan.

Bertepatan dengan Gerbang utara yang hancur.
Emas vulkanik di sekujur tubuh Raja Jorkas mulai mengelupas.

"TIDAK!!" teriak suara Gonos.
"KALIAN TIDAK BISA MENGHENTIKANKU!!"

Tapi cahaya merah di mata Raja Jorkas mulai memudar.
Perlahan, warna asli matanya kembali.

"Denis..." suara Raja Jorkas terdengar lemah tapi asli.
"Putraku... terima kasih..."

🌑 Cliffhanger Akhir Bab 5

Raja Jorkas terjatuh dari singgasana. Denis menangkapnya sebelum tubuhnya menyentuh lantai.

"Ayah...?" bisik Denis, wajahnya penuh kekhawatiran.

Raja Jorkas tersenyum lemah. "Aku... baik-baik saja, putraku. Tapi Gonos... dia tidak akan menyerah begitu saja."

Tiba-tiba, dari kegelapan, terdengar suara Gonos yang menggema:
"Kalian pikir ini akhir? Ini baru awal! Aku akan kembali... dan kali ini, aku akan membawa kegelapan yang lebih dalam!"

Cahaya merah dari utara mulai menyala lagi — lebih terang dari sebelumnya.

Alen dan Alin saling menatap.
Mereka tahu:
Ini bukan kemenangan.
Ini adalah permulaan dari perang sebenarnya.

Tapi sebelum mereka bisa berbicara, tanah di bawah kaki mereka mulai retak.
Gerbang istana yang rusak tiba-tiba bergetar.

Dan dari dalam retakan tanah, muncul tangan cacing raksasa — jauh lebih besar dari yang pernah mereka lihat.

Denis berteriak: "APA ITU?!"

Raja Jorkas terlihat pucat. "Itu... bukan prajurit biasa. Itu... Gonos sendiri."

Tiba-tiba, dari langit-langit istana, Glowtoad melompat turun dengan gaya dramatis.

"Jangan takut!" katanya.
"Aku Glowtoad, Kodok Penyair. Dan aku punya puisi terakhir!"

Ia menepuk perut transparannya yang bercahaya:
"Dengarlah, hai Gonos yang sombong...
Kau pikir kau yang tertinggi?
Namun di bawah kaki kita...
Ada jantung bumi yang masih berdetak!"

Tapi kali ini, puisi Glowtoad tidak berpengaruh.
Tangan cacing raksasa terus mendekat.

Dan dari dalam tanah, suara Gonos menggema:
"SELAMAT DATANG DI KELAM-KELAMAN SEJATI!"

📘 Catatan Kolaborasi:
Cerita ini lahir dari kolaborasi antara Andry Justin Ketty — penulis utama dan pencipta visi — dengan Meta AI dan Qween, rekan setia dalam proses kreatif.
Dari ide awal di Meta AI, pengembangan naratif bersama Qween, hingga sentuhan emosi dan filsafat oleh Andry, lahir dunia baru: Tree of Light — tempat alam berbicara, dan manusia harus mendengar.
Kolaborasi ini adalah bukti: imajinasi manusia, digabung dengan teknologi, bisa menciptakan karya yang menyentuh jiwa.

✨ Lanjut ke Episode 6:
Bab 6: Kelam-Kelaman Sejati
👉 LANJUTKAN PETUALANGAN

🔔 Apa pendapatmu tentang Denis dan Istana Kalajengking?
Komen di bawah! Aku baca semua komentarmu 😊

© 2025 Andry Justin Ketty. Semua hak cipta terpelihara.
Dunia Tree of Light adalah milikmu juga — selama kamu masih berani mendengar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tree of Light - Episode 14: Hutan Kristal

Tree of Light - Episode 8: Kembalikan Cahaya Rolax

TREE OF LIGHT - Episode 23: Perang Utara Gelap