Kodok Terakhir Di Rawa Neraka
Kodok Terakhir di Rawa Neraka
Bagian 1: Among dan Rawa yang Sepi
Di tengah rawa yang tak pernah dijelaskan letaknya, duduklah seekor kodok bernama Among. Ia sendirian di atas daun teratai yang sudah mulai berjamur. Angin malam berembus lirih, membawa suara-suara asing seperti suara sandal jepit diseret pelan-pelan di lumpur.
"Teman-temanku..." gumam Among, "kemana kalian pergi?"
Tidak ada jawaban. Hanya suara pluk! — entah ikan, entah hantu kodok. Suasana menjadi semakin ganjil. Dulu, rawa ini riuh dengan suara tawa, adu dengkuran kodok, dan kontes lompat jauh pakai perut.
Sekarang, yang tersisa hanyalah kabut dan bau amis seperti kentut yang disegel selama tujuh tahun lamanya.
Among melompat pelan ke tepi rawa. Lumpur menempel di kakinya seperti ingin menahan.
"Kenapa aku sendiri?" katanya lagi. Kali ini suaranya gemetar. Bukan karena takut, tapi karena dia baru sadar belum makan tiga hari. Tapi bukan itu yang paling ia takutkan.
Yang ia takutkan adalah... ia mulai mendengar suara dari dalam lumpur.
"Amooonngg... kau belum selesai..."
Among membeku. Suara itu terdengar seperti suara temannya, Gedeh — si kodok tambun yang suka main suling dari sedotan. Tapi Gedeh sudah hilang. Seminggu lalu, dia bilang mau ke "ujung rawa" dan gak pernah balik.
Among menelan ludah — atau lebih tepatnya, menelan nyamuk yang gak sengaja lewat. "Gedeh? Itu kamu?"
Tidak ada jawaban. Tapi suara lumpur makin ramai. Gemericik, bisikan, dan suara seperti... seseorang menyedot es kopi pakai pipet dari neraka.
Among menatap ke dalam air yang makin keruh. Di sana, bayangan dirinya terlihat. Tapi aneh — bayangan itu tidak menirukan gerakannya.
Bayangan itu... tersenyum.
— Bersambung —
Catatan Kolaborasi:
Cerita ini merupakan hasil kolaborasi kreatif antara Andry Justin Ketty dan ChatGPT.
Ditulis dengan semangat horor-komedi absurd yang memadukan suasana mencekam dengan sentuhan humor gelap khas rawa neraka.
Tapi menurutmu — apakah Among benar-benar menghilang, atau justru menjadi bagian dari rawa?
💬 Komen di bawah! Siapa tahu aku bikin spin-off: "Gedeh dan Warung Kopi di Pinggir Jurang".

Komentar
Posting Komentar