Ketika hujan turun di bulan Oktober
Ketika Hujan Turun di Bulan Oktober
Langit sore tampak sendu, seolah menyimpan rahasia yang enggan dibuka. Deni duduk di pojok kafe yang sama seperti sepuluh tahun lalu, menatap jendela berkabut dan secangkir kopi yang sudah kehilangan hangatnya. Waktu berjalan pelan, tapi kenangan tetap menempel erat seperti aroma hujan di udara.
Hingga pintu kafe terbuka — dan seseorang masuk.
Melinda.
Deni hampir tidak percaya. Gerak langkah itu, sorot matanya yang teduh, bahkan caranya merapikan rambut saat menunduk... semua masih sama. Tapi kali ini, ada seorang pria di sampingnya. Tinggi, berwibawa, dan terlihat nyaman menggenggam tangan Melinda.
“Deni?” suara itu lembut, sedikit ragu.
“Hai, Lin… lama ya,” jawab Deni dengan senyum yang tertahan.
Melinda menarik napas, lalu memperkenalkan pria itu, “Ini Arga, tunanganku.”
Kata itu — tunanganku — menggema di dada Deni seperti gema kosong dalam ruang yang dulu pernah penuh tawa.
“Halo, senang ketemu. Melinda sering cerita tentang kamu, teman kuliahnya,” kata Arga ramah, menjabat tangan Deni.
Deni hanya mengangguk kecil, mencoba menyembunyikan badai kecil di dadanya.
Mereka bertiga sempat duduk di meja yang sama. Percakapan ringan mengalir—tentang pekerjaan, tentang hujan, tentang hal-hal yang tidak menyakitkan. Tapi setiap tawa Melinda membuat Deni merasa sedikit lebih kecil, seolah dirinya hanyalah penonton dari film yang pernah ia mainkan.
Waktu berlalu cepat. Makanan mereka habis, dan Melinda mulai berkemas.
“Deni,” katanya lembut sambil berdiri, “senang bisa ketemu lagi.”
“Aku juga,” jawab Deni pelan.
Melinda menatapnya sejenak. Ada sesuatu di matanya—campuran antara kenangan dan keikhlasan. Lalu ia menepuk pelan bahu Deni, senyumnya tipis tapi tulus.
“Jaga diri, ya.”
Deni hanya bisa berdiri mematung, menatap punggung Melinda dan Arga yang berjalan meninggalkan kafe. Hujan di luar seolah ikut bicara dalam diam—menutup bab yang takkan dibuka lagi.
Setelah mereka pergi, Deni menatap nota kecil di meja. Di pojoknya, ada tulisan tangan yang dikenalnya:
“Terima kasih sudah datang, Den. Aku bahagia kamu baik-baik saja.”
Deni tersenyum. Tidak getir, tidak pula sedih. Hanya hangat—seperti kopi yang baru diseduh setelah lama dingin. Ia tahu, beberapa cinta memang datang terlambat agar kita belajar tentang kehilangan dengan cara yang lembut.
Ia melangkah keluar dari kafe, membiarkan hujan membasahi wajahnya. Dan di bawah langit Oktober yang muram, Deni akhirnya bisa berkata dalam hati:
“Selamat, Lin… dan terima kasih sudah pernah jadi rumah.”

Komentar
Posting Komentar