Kolam Ilusi
Kodok Terakhir Di Rawa Neraka
*Kolam Ilusi*
Di pinggir kolam ada papan kayu kecil bertuliskan:
“Kolam Ilusi – Kembalikan yang Hilang, Tapi Siap-siap Kehilangan Yang Lain”
Among mengerutkan dahi ."Aneh banget… apa maksudnya?”
Tiba-tiba muncul seekor ikan kecil dengan topi koboi, menatap Among dengan mata tajam.
“Halo, kodok,” kata ikan itu santai, “mau balikin sahabatmu? Masuklah ke dalam air. Tapi ingat, apa yang kamu lihat mungkin bukan yang sebenarnya.”
Among mengangkat bahu."Gak ada pilihan lain.”
Ia melompat ke dalam kolam. Airnya dingin menusuk sampai ke tulang. Di bawah air, ia melihat pantulan sahabatnya – Gedeh – yang sedang tersenyum bahagia, bermain suling, dan tertawa seperti dulu.
Among tersenyum tipis, tapi tiba-tiba bayangan itu berubah. Gedeh berubah jadi bayangan hitam yang mengerikan, mulutnya membentuk senyum lebam seperti hantu-hantu di film horor.
“Ini jebakan?” Among terperangah.
Bayangan itu berkata,“Kamu bisa kembali, tapi harus bayar harga.”
Among panik dan berusaha keluar, tapi airnya makin berat, seperti ditambah lumpur neraka.
Tiba-tiba terdengar suara dari tepi kolam,“Among! Jangan terbuai oleh ilusi itu!”
Among menoleh, melihat sosok Pak Lintah berdiri dengan wajah serius, sambil memegang secangkir kopi panas.
“Kalau kamu terlalu lama di sini, kamu bakal jadi bagian dari kolam ini,” kata Pak Lintah sambil menyeruput kopi.
Among menarik napas dalam dan berusaha melompat keluar dengan tenaga terakhirnya. Sesampainya di tepi, ia terbatuk-batuk, lumpur menetes dari mulutnya, dan Gedeh yang asli – atau yang tersisa – menatapnya dengan tatapan kosong.
“Gue harus cari cara lain buat nyelametin lo, bro,” gumam Among.
*Raja Kodok Neraka*
Among dan Gedeh (yang masih setengah lendir setengah kodok zombie) melangkah ke bagian terdalam rawa. Udara bergetar dan bau belerang bercampur aroma jengkol busuk semakin kuat.
Tiba-tiba, dari balik semak muncul sosok besar – seekor kodok raksasa dengan mahkota dari ranting dan daun busuk, duduk di atas batu besar berlumut.
Dia adalah Raja Kodok Neraka.
Raja Kodok menatap Among dengan mata merah menyala."Ah, Among, kodok terakhir. Kau datang mencari jawaban, bukan?”
Among mengangguk, sedikit gemetar tapi berusaha tegar.
Raja Kodok tertawa, tawa yang sekaligus mengerikan dan aneh, seperti orang yang baru nemu WiFi gratis di tengah rawa, "Kau tahu, Among… di rawa ini, kita semua adalah bayangan dari kodok yang pernah ada. Aku adalah bagian dari dirimu… di masa depan. Aku adalah kamu itu sendiri jika kau terus terjebak di rawa ini.”
Among terdiam." Jadi...aku harus bagaimana?”
Raja Kodok mengangkat tangan dan perlahan-lahan mengubah dirinya menjadi kodok kecil biasa. "Kau harus melepaskan. Melepaskan teman yang hilang, melepaskan masa lalu, dan yang paling sulit… melepaskan diri sendiri.”
Among termenung.
" Tapi aku takut sendiri.”
Raja Kodok tersenyum lembut. "Sendiri itu bukan berarti sepi. Sendiri adalah ruang untuk mengenal diri, menemukan kekuatan yang tak pernah kau sadari.”
Among mengangguk perlahan." Aku mengerti… mungkin ini jalan yang harus aku tempuh.”
Raja Kodok kemudian menghilang dalam kabut secara perlahan, meninggalkan sebuah daun teratai bercahaya di tanah rawa. Among memungut daun itu, merasa hangat untuk pertama kalinya sejak lama.
* Kesadaran*
Among berdiri di tepi rawa. Kabut mulai menghilang, digantikan langit kelabu dengan warna jingga matahari terbenam yang aneh, seperti saus sambal tumpah di langit.
Di tangannya, daun teratai bercahaya dari Raja Kodok Neraka masih hangat. Ia menatapnya sambil tersenyum kecil, "jadi ini akhir dari perjalanan aku…” gumam Among.
Ia melihat ke belakang – rawa yang penuh bisikan, kabut, dan bayangan aneh. Sahabatnya, Gedeh, berdiri di sampingnya, walau masih setengah lendir, tapi sudah lebih hidup.
“Gedeh, kau…?” tanya Among
Gede mengangguk."Aku,nggak benar-benar hilang, bro. Aku cuma berubah. Sama kayak lo.”
Among tertawa pelan. "Kita kodok aneh, ya? Tapi setidaknya sekarang aku tahu… kehilangan itu bukan akhir. Kadang itu cuma awal dari sesuatu yang lebih gila.”
Ia melompat dari tepi rawa, menyebar air ke udara. Suara riak air mengiringi langkahnya yang semakin jauh dari rawa.
Sambil berjalan, ia berkata,“Mungkin aku sendiri, tapi sendiri itu bukan berarti sepi. Sendiri itu… kayak ngopi pagi, ada waktunya untuk dinikmati.”
Di kejauhan terdengar suara cicak yang berisik. Among tersenyum dan berkata,“Tolong, jangan ganggu momen filosofis gue, ya.”
*Epilog Rawa Filosofis*
Malam turun perlahan di atas rawa. Suara jangkrik terdengar seperti paduan suara yang salah nada, tapi entah kenapa terdengar damai.
Among duduk di atas batu yang mengering, sambil menyeruput secangkir kopi panas—entah dari mana datangnya. Di sebelahnya, Gedeh duduk tenang, lendirnya sudah tidak separah dulu.
“Gedeh,” kata Among pelan, “akhirnya kita sampai juga di ujung rawa ini.”
Gedeh mengangguk. “Iya… dan anehnya, gue malah kangen bau jengkol busuknya.”
Keduanya tertawa pelan. Kabut sudah menghilang, tapi bisikan rawa masih terdengar samar—bukan menakuti, melainkan seperti menyapa kawan lama.
Among menatap langit. Bintang-bintang muncul satu per satu, membentuk pola yang mirip wajah kodok tertawa.
“Dulu gue kira sendiri itu akhir,” gumam Among. “Ternyata… sendiri itu cuma jeda.”
Gedeh menjawab, “Dan di jeda itu… kita bisa ngopi.”
Tiba-tiba, seekor katak kecil pakai jas hitam dan topi tinggi melompat ke hadapan mereka."Selamat malam, Tuan Kodok,” katanya dengan suara serius. “Apakah kalian tertarik ikut Festival Kodok Filosofis Tahunan?”
Among dan Gedeh saling pandang, lalu tertawa ngakak.
“Mungkin hidup kita gak akan pernah normal,” kata Among. “Tapi siapa butuh normal kalau kita punya kopi, rawa, dan kegilaan kecil?”
Mereka pun melompat bersama menuju hutan, meninggalkan rawa yang kini tenang. Angin membawa suara tawa kodok itu jauh ke malam.
Dan rawa pun tertidur dalam keheningan yang aneh tapi hangat.
✨ TAMAT ✨
📝 Catatan Kolaborasi:Cerita ini merupakan hasil kolaborasi antara Andry Justin Ketty (penulis utama) dan ChatGPT (GPT-5) sebagai partner ide & perapihan narasi. Seluruh isi tetap milik penulis utama
Tapi menurutmu — apakah Among benar-benar menghilang, atau justru menjadi bagian dari rawa?
💬 Komen di bawah! Siapa tahu aku bikin spin-off: "Gedeh dan Warung Kopi di Pinggir Jurang".

Komentar
Posting Komentar