Bisikan dari Lumpur Neraka — Saat Among Mendengar Suara Misterius

 kodok Terakhir Di   Rawa Neraka

Bab 2 – Bisikan dari Lumpur Neraka  

 Among berdiri mematung di tepi rawa. Matanya tak lepas dari bayangan yang tersenyum di air. Tapi senyum itu serasa aneh bagi dirinya— bukan seperti senyum ramah, lebih kayak senyum orang yang tahu password WiFi tapi gak mau ngasih.
Bayangan itu kemudian membuka mulutnya.

“Amon...ng... ke ujung rawa... cari pohon dengan suara menangis... kamu akan tahu segalanya...”

Among tersentak. Ia melompat satu meter ke belakang, lalu jatuh ke lumpur. “BLEB!”
“Blegh! Rasanya kayak seperti dicium lele yang baru saja bangun tidur...” katanya sambil lalu bangkit dengan lumpur yang masih nyangkut di lubang hidungnya.

Suara-suara di sekelilingnya mendadak semakin ramai, seperti suara-suara di pasar malam. Tapi anehnya, semua suara itu mengucapkan hal yang sama, secara terus-menerus:

“Ujung rawa... ujung rawa... ujung rawa...”
Among mulai panik.Oke, stop! Jangan kayak lagu TikTok yang diulang-ulang sampe masuk mimpi!, oke..” ujar Among sambil mengangkat kedua telapak tangannya ke depan.
Tapi rawa ini sudah tak mendengarkan logika. Seekor keong raksasa lewat di belakang Among sambil nyanyi lagu pop lawas. Seekor bangau duduk melamun di atas ranting sambil minum teh dari batok kelapa.

“Semua ini gak masuk akal...” desis Among. “Tapi... gue juga gak punya kerjaan.”
Ia pun mulai berjalan. Langkah kecil kodoknya menyusuri lumpur, melewati daun-daun busuk dan tulang kodok yang sudah menghitam — mungkin bekas temannya yang telah tiada, atau mungkin cuma pajangan Halloween rawa.
Langit mulai merah. Kabut makin tebal. Udara mulai bau, seperti mie instan basi yang dikubur selama seminggu.

  Di kejauhan, terdengar suara. Bukan suara hantu, bukan pula suara angin yang sedang berbisik. Tapi... itu seperti suara pohon yang sedang menangis.
Among menatap ke arah asal suara itu. Suaranya seperti... pohon yang sedang patah hati karena daun-daunnya selingkuh sama angin.


Suasana jadi semakin mengerikan, namun among tidak merasakan takut.Among hanya takut cicak doang. Sama bayar cicilan hutang.”
Dan dengan itu, ia melompat menuju ke asal suara tangisan pohon. Ke ujung rawa. Ke tempat di mana kenyataan dan lelucon saling menampar satu sama lain.

Masih Bab 2 – Penjaga Daun Berduri & Kemunculan Gedeh
Among melangkah perlahan-lahan menuju asal suara pohon menangis. Kabut di sekitar rawa semakin menebal, dan bau rawa makin menusuk hidung, seperti campuran aroma kentut dan durian busuk.
Di tengah perjalanan, ia tiba di sebuah daun raksasa berduri — gerbang alami yang dijaga oleh seekor lintah tua bernama Pak Lintah Sok Bijak.
Pak Lintah duduk sambil menghisap darah dari seekor nyamuk yang lagi galau.

“Eh, siapa yang mau lewat?” tanya Pak Lintah dengan suara serak seperti radio tua.
“Aku Among, kodok terakhir di rawa neraka. Aku ingin mencari jawaban,” jawab Among dengan suara gemetar.
“Jawaban? Hahaha! Di rawa ini, jawaban itu mahal, bro! Kalau mau lewat, jawab pertanyaanku:

"Kalau kamu kodok, kenapa kamu gak kerja di sawah aja?’”
Among garuk-garuk  kepala. “Eh, apa hubungannya, Pak?”
Pak Lintah melotot. “Jawab! Kalau gak, kamu akan jadi makanan kolam!”
Among berpikir keras sambil nahan bau lumpur.

 “Karena aku gak suka kerja keras, Pak. Aku lebih suka ngendon di daun teratai daripada di sawah.”

  Pak Lintah ketawa ngakak. “hahaha..Jawaban gokil! Lewat, tapi hati-hati sama lumpur neraka yaa, bro.”
Among melompat melewati daun berduri dan melanjutkan perjalanan. Kabut semakin tebal dan suara pohon menangis makin jelas terdengar. 
Tiba-tiba, dari dalam lumpur yang hitam pekat, muncul bayangan. Perlahan-lahan, bayangan itu berubah bentuk — menjadi sahabat Among, Gedeh.
Tapi... Gedeh bukan Gedeh yang biasa.
Kulitnya berlendir, matanya merah menyala, dan mulutnya terus mengeluarkan suara gemeretak seperti mesin tua yang sedang error.
Among terkejut, kakinya nyaris terpeleset ke lumpur.
“Gedeh?” tanya Among gemetar.
Gedeh mengangguk pelan, tapi suaranya pecah dan serak, “Among... aku... sudah berubah... rawa ini... neraka...”
Among panik dan melompat ke belakang sambil berkata, “Bro, lo kok jadi kayak film horor gitu sih! Santai dong!”
Gedeh tersenyum aneh."Santai? Di rawa ini, cuma kodok gila yang bisa santai...”
Among menghela napas. “Oke, kayaknya aku harus cari cara buat nolongin dia.”

                       

                             *Bersambung*


📝 Catatan Kolaborasi:Cerita ini merupakan hasil kolaborasi antara Andry Justin Ketty (penulis utama) dan ChatGPT (GPT-5) sebagai partner ide & perapihan narasi. Seluruh isi tetap milik penulis utama

🔚 Cerita ini telah tamat.
Tapi menurutmu — apakah Among benar-benar menghilang, atau justru menjadi bagian dari rawa?
💬 Komen di bawah! Siapa tahu aku bikin spin-off: "Gedeh dan Warung Kopi di Pinggir Jurang".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tree of Light - Episode 14: Hutan Kristal

Tree of Light - Episode 8: Kembalikan Cahaya Rolax

TREE OF LIGHT - Episode 23: Perang Utara Gelap