TREE OF LIGHT
TREE OF LIGHT
Episode 1: Penemuan Pohon Rolax di Dunia Bawah Tanah
Hutan Aklea tidak pernah ramai. Di tahun 1960, wilayah ini masih tercatat sebagai "kawasan terpencil — masuk dengan risiko sendiri". Tapi bagi Alen dan Alin, dua ilmuwan muda dari Institut Biologi Nusantara, tempat ini adalah surga penelitian.
Mereka berjalan kaki selama tiga hari, membawa ransel berat berisi mikroskop portabel, kamera film, buku catatan usang, dan harapan yang lebih besar dari semua itu. Mereka mencari spesies tumbuhan langka yang dilaporkan tumbuh di sini — konon, daunnya bisa menyembuhkan luka bakar dalam hitungan jam.
"Alen, aku rasa kita sudah dekat dengan lokasi yang kita cari," kata Alin, sambil melihat peta yang digulung erat di tangannya. Tinta pudar, garis-garis goresan pensil, dan coretan "X" merah menandai titik tujuan mereka.
"Baiklah," jawab Alen, memandang pepohonan tinggi yang saling menjulang, menciptakan atap alami yang hampir tak tembus cahaya. "Mari kita cari tempat yang aman untuk mendirikan tenda."
Setelah beberapa menit menyusuri semak belukar, mereka menemukan glade sempit — cukup datar untuk berkemah. Dengan gerakan terlatih, mereka mulai mendirikan tenda, mengatur alat, dan membagi tugas.
"Aku akan fokus pada flora," kata Alen, mengeluarkan buku catatan dan pensil mekanik. "Kalau ada spesies baru, kita harus dokumentasikan semuanya — morfologi, habitat, reaksi kimia."
"Aku ambil fauna," balas Alin, sambil ia πmengangkat kameranya. "Jejak kaki, suara malam, perilaku serangga... Semua bisa jadi petunjuk."
Mereka bekerja dalam diam yang nyaman. Sunyi hutan hanya dipecah oleh bunyi kupu-kupu menyentuh daun, atau ranting yang patah jauh di kejauhan. Saat matahari mulai tenggelam, warna oranye memenuhi celah-celah pepohonan, memberi kesan bahwa dunia sedang bernapas pelan.
"Alin, aku rasa kita telah menemukan beberapa hal yang menarik hari ini," kata Alen, menutup buku catatannya. "Tanaman dengan getah biru itu... belum pernah aku lihat di literatur mana pun."
Alin tersenyum. "Aku juga. Ada jejak binatang besar, tapi tidak seperti tapak rusa atau macan. Seperti... lebih purba."
"Mungkin fosil hidup?"
"Atau makhluk yang belum tercatat."
Sejenak, mereka duduk berdampingan, menikmati hangat api kecil dari kayu kering. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, mereka merasa: mungkin, dunia ini masih menyimpan rahasia.
Lalu, tanah bergetar.
Bukan gempa. Bukan ledakan. Tapi seperti denyut jantung bumi yang marah. Alen dan Alin saling menatap, wajah mereka dipenuhi ketakutan yang tiba-tiba.
"Apa itu?" bisik Alin.
Sebelum Alen sempat menjawab—
BUMI TERBELAH.
Retakan lebar menganga tepat di antara mereka. Tanah runtuh. Mereka jatuh. Tidak ada teriakan. Hanya desiran angin, dan kegelapan yang tak berujung.
Ketika mereka tersadar, cahaya biru redup menyelimuti ruangan raksasa. Dindingnya dari batu kristal, berkilauan seperti bintang mati. Di atas kepala, fosil teknologi manusia tertanam dalam bebatuan: tank, kapal luar angkasa, pabrik raksasa… semua menjadi bagian dari geologi.
"Di mana kita?" bisik Alin, suaranya gemetar.
Alen memandang sekeliling. Tubuhnya sakit, tapi otaknya tetap bekerja. "Ini… bukan gua biasa. Ini seperti… arsip bumi. Sejarah yang dikubur… dan disimpan."
Mereka berjalan pelan, disambut oleh bayangan yang hidup: kilasan peperangan, laut penuh plastik, hutan dibakar. Semua diproyeksikan oleh lumut bercahaya di dinding — sejarah kelam umat manusia yang dikembalikan oleh bumi sendiri.
Lalu, di pusat ruangan, mereka melihatnya:
π³ POHON ROLAX
Pohon raksasa, akarnya menyatu dengan batu, daunnya memancarkan cahaya lembut seperti bulan. Ia tidak bergerak… tapi mereka bisa merasakan napasnya. Denyut nadanya.
"Ini bukan tumbuhan," kata Alin, terpesona. "Ini… hidup. Dan ia seperti sedang menatap kita."
Tanpa sadar, Alin melangkah maju. Saat ujung jarinya menyentuh batang pohon—
Cahaya meledak. Lembut, hangat, menyebar ke seluruh tubuhnya. Luka di lengannya sembuh. Rasa takutnya lenyap. Ia bisa mendengar… nyanyian. Bukan dari udara, tapi dari tanah.
"Alen… aku bisa mendengar bumi," bisiknya.
Alen menyentuh pohon itu. Energi yang sama mengalir ke tubuhnya. Ia merasa kuat. Jernih. Seolah pikirannya terhubung langsung ke alam semesta.
"Ini… adalah harapan," katanya.
π Pertemuan dengan Naga Bumi
Dari bayangan, langkah berat terdengar. Batu berguling. Udara Di sekitar bergetar.
Dari balik kolom kristal, muncul makhluk raksasa. Tubuhnya dari batu vulkanik dan akar purba. Matanya menyala merah seperti magma. Sisiknya berderak seperti gempa kecil.
Naga Bumi.
"Kalian bukan yang pertama datang ke sini," suaranya bergema, dalam dan tua seperti zaman sebelum manusia. "Tapi kalian adalah yang pertama yang dapat menyentuhnya… dan tetap utuh."
Alen dan Alin saling menatap,ada perasaan takut, tapi tidak mundur.
"Pohon itu… apa dia?" tanya Alin.
"Rolax adalah jantung terakhir bumi," jawab Naga Bumi. "Ia menyimpan memori alam, memprediksi masa depan, dan memberi kekuatan kepada mereka yang masih peduli. Tapi jika jatuh ke tangan yang rakus… ia akan mati. Dan bumi pun akan ikut mati."
Alen bertanya, "Lalu kenapa kami? Kenapa sekarang?"
Naga Bumi mendekat, lalu menyentuh dahi mereka dengan dahinya.
"Karena kalian datang bukan untuk menguasai. Kalian datang untuk belajar. Maka dari itu…" — energi mengalir — "aku beri kalian sebagian dari kekuatan Rolax. Gunakanlah untuk melindungi, bukan untuk menghancurkan."
Dengan satu desiran, Naga Bumi menghilang. Tinggal mereka berdua, berdiri di bawah cahaya pohon abadi.
"Kita harus merahasiakan ini," kata Alin. "Jika orang tahu… mereka akan datang untuk menghancurnya."
Alen mengangguk. "Kita bukan ilmuwan lagi. Kita… penjaganya."
Di kejauhan, dari lorong gelap, terdengar suara lain. Suara yang tidak berasal dari manusia… atau dari Naga Bumi.
π Catatan Kolaborasi:
Cerita ini lahir dari kolaborasi antara Andry Justin Ketty — penulis utama dan pencipta visi — dengan Meta AI dan Qween, rekan setia dalam proses kreatif.
Dari ide awal di Meta AI, pengembangan naratif bersama Qween, hingga sentuhan emosi dan filsafat oleh Andry, lahir dunia baru: Tree of Light — tempat alam berbicara, dan manusia harus mendengar.
Kolaborasi ini adalah bukti: imajinasi manusia, digabung dengan teknologi, bisa menciptakan karya yang menyentuh jiwa.
✨ Lanjut ke Episode 2:
Bab 2: Bahasa Binatang dari Dunia Bawah Tanah
π LANJUTKAN PETUALANGAN
π Apa pendapatmu tentang Alen, Alin, dan Pohon Rolax?
Komen di bawah! Aku baca semua komentarmu π
© 2025 Andry Justin Ketty. Semua hak cipta terpelihara.
Dunia Tree of Light adalah milikmu juga — selama kamu masih berani mendengar.

Komentar
Posting Komentar